Google
 

Sabtu, 08 Desember 2007

Bisnis Pulsa

Bisnis Pulsa saat ini sedang marak-maraknya, berbisnis pulsa tidak membutuhkan modal yang besar namun income-nya besar. Bahkan saya kenal seorang kolega yang memulai bisnis ini hanya dengan mengeluarkan uang celengannya (1-2 juta), bahkan ada yang hanya dengan kepercayaan (tanpa modal), minimal punya HP yang bisa buat sms. Jika tertarik untuk berbisnis pulsa sebaiknya Anda mencoba untuk memulainya dari sekarang. Ada Beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk memulai bisnis ini, diantaranya:
1. Survey tempat atau lokasi usaha, (tempat dekat sekolah, kampus, tempat sekitar kos-kos-an, pinggir jalan dan kantor sangat dianjurkan)
2. Target Pasar /siapa pembeli? (Tentukan siapa konsumen kita; mahasiswa, karyawan, siswa, atau orang yang lalu lalang)
3. Pelajari seluk-beluk tentang Bisnis Pulsa. siapkan mental , kegigihan, dan kesabaran.
4. Bangun jaringan, usahakan Anda menjadi orang yang aktif mencari patner bisnis, karena bisnis pulsa ini memberikan keuntungan kepada Anda jika mengajak orang lain untuk mengikuti langkah Anda. Anda akan dapat 2 bonus ketika mengajak orang lain ikut usaha pulsa; 1. Bonus Registrasi/daftar. 2. Bonus Income Pasif, setiap pulsa teman Anda terjual Anda dapat keuntungan juga.
5. Mulai dari sekarang.

Modal yang Anda punya hanya memberikan 30% kesuksesan, sedangkan 70% kesuksesan-nya lagi ketika Anda Kerja keras, kerja cerdas, dan ikhlas.

Selamat Mencoba, Mudah-mudahan Kesuksesan menyertai Anda.

Kisah Pengusaha Sukses

Lulusan STM bangunan ini mengawali bisnisnya hanya dengan dua gerobak. Kini, ia memiliki 10 pabrik dan 2.000 outlet Edam Burger yang tersebar di seluruh Indonesia. Segalanya tentu tak mudah diraih. Bahkan, ia pernah menjalani hidup yang keras di Jakarta.

(Di rumah mungil di kawasan Perumnas Klender, Jakarta Timur, belasan pegawai berkaus merah kuning terlihat sibuk. Roti, daging, sosis, hingga botol-botol saus kemasan bertuliskan Edam Burger disusun rapi dalam wadah-wadah plastik siap edar. Seorang lelaki bercelana pendek berhenti bekerja, lalu keluar menyambut NOVA.

Pembawaannya sederhana, tak ubahnya seperti pegawai lain. Sambil tersenyum hangat, ia pun memperkenalkan diri. “Aduh maaf, ya, saya tidak terbiasa rapi, hanya pakai oblong dan celana pendek,” tutur Made Ngurah Bagiana, sang pemilik Edam Burger. Beberapa saat kemudian, Made bercerita.)

Terus terang, saya suka malu dibilang pengusaha sukses yang punya banyak pabrik dan outlet. Bukan tidak mensyukuri, tapi saya hanya tak mau dicap sombong. Saya mengawali semua usaha ini dengan niat sederhana: bertahan hidup. Makanya, sampai sekarang saya ingin tetap menjadi orang yang sederhana. Sesederhana masa kecil saya di Singaraja, Bali.

Orang tua memberi saya nama Made Ngurah Bagiana. Saya lahir pada 12 April 1956 sebagai anak keenam dari 12 bersaudara. Sejak kecil, saya terbiasa ditempa bekerja keras. Malah kalau dipikir-pikir, sejak kecil pula saya sudah jadi pengusaha. Bayangkan, tiap pergi ke sekolah, tak pernah saya diberi uang jajan. Kalau mau punya uang, ya saya harus ke kebun dulu mencari daun pisang, saya potong-potong, lalu dijual ke pasar.

Menjelang hari raya, saya pun tak pernah mendapat jatah baju baru. Biasanya, beberapa bulan sebelumnya saya memelihara anak ayam. Kalau sudah cukup besar, saya jual. Uangnya untuk beli baju baru. Lalu, sekitar usia 10 tahun, saya harus bisa memasak sendiri. Jadi, kalau mau makan, Ibu cukup memberi segenggam beras dan lauk mentah untuk saya olah sendiri.

PENSIUN JADI PREMAN
Begitulah, hidup saya bergulir hingga menamatkan STM bangunan tahun 1975. Bosan di Bali, saya pun merantau ke Jakarta tanpa tujuan. Saya menumpang di kontrakan kakak saya di Utan Kayu. Untuk mengisi perut, saya sempat menjadi tukang cuci pakaian, kuli bangunan, dan kondektur bis PPD.

Kerasnya kehidupan Jakarta, tak urung menjebloskan saya pada kehidupan preman. Bermodal rambut gondrong dan tampang sangar, ada-ada saja ulah yang saya perbuat. Paling sering kalau naik bis kota tidak bayar, tapi minta uang kembalian. (Sambil berkisah, Made terbahak tiap mengingat pengalaman masa lalunya. Berulang kali ia menggeleng, lalu membenarkan letak kacamatanya).

Toh, akhirnya saya pensiun jadi preman. Gantinya, saya berjualan telur. Saya beli satu peti telur di pasar, lalu diecer ke pedagang-pedagang bubur. Ternyata, usaha saya mandeg. Saya pun beralih menjadi sopir omprengan. Bentuknya bukan seperti angkot ataupun mikrolet zaman sekarang, masih berupa pick-up yang belakangnya dikasih terpal. Saya menjalani rute Kampung Melayu - Pulogadung - Cililitan.

Tahun 1985, saya pulang ke kampung halaman. Pada 25 Desember tahun itu, saya menikah dengan perempuan sedaerah, Made Arsani Dewi. Oleh karena cinta kami bertaut di Jakarta, kami memutuskan kembali ke Ibu Kota untuk mengadu nasib. Kami membeli rumah mungil di daerah Pondok Kelapa. Waktu itu saya bisnis mobil omprengan. Awalnya berjalan lancar, tapi karena deflasi melanda tahun 1986-an, saya pun jatuh bangkrut. Kerugian makin membengkak. Saya harus menjual rumah dan mobil. Lalu, saya hidup mengontrak.

NYARIS TERSAMBAR PETIR
Titik cerah muncul di tahun 1990. Saya pindah ke Perumnas Klender. Tanpa sengaja, saya melihat orang berjualan burger. Saya pikir, tak ada salahnya mencoba. Saya nekad meminjam uang ke bank, tapi tak juga diluluskan. Akhirnya saya kesal dan malah meminjam Rp 1,5 juta ke teman untuk membeli dua buah gerobak dan kompor.

Bahan-bahan pembuatan burger, seperti roti, sayur, daging, saus, dan mentega, saya ecer di berbagai tempat. Dibantu seorang teman, saya menjual burger dengan cara berkeliling mengayuh gerobak. Burger dagangannya saya labeli Lovina, sesuai nama pantai di Bali yang sangat indah.

Banyak suka dan duka yang saya alami. Susahnya kalau hujan turun, saya tak bisa jalan. Roti tak laku, Akhirnya, ya, dimakan sendiri. Masih untung karena istri saya bekerja, setidaknya dapur kami masih bisa ngebul. Pernah juga gara-gara hujan, saya nyaris disambar petir. Ketika itu saya tengah memetik selada segar di kebun di Pulogadung. Tiba-tiba hujan turun diiringi petir besar. Saya jatuh telungkup hingga baju belepotan tanah. Rasanya miris sekali.

Di awal-awal saya jualan, tak jarang tak ada satu pun pembeli yang menghampiri, padahal seharian saya mengayuh gerobak. Mereka mungkin berpikir, burger itu pasti mahal. Padahal, sebenarnya tidak. Saya hanya mematok harga Rp 1.700 per buah. Baru setelah tahu murah, pembeli mulai ketagihan. Dalam sehari bisa laku lebih dari 20 buah.

Untuk mengembangkan usaha, saya mengajak ibu-ibu rumah tangga berjualan burger di depan rumah atau sekolah. Mereka ambil bahan dari saya dengan harga lebih murah. Sungguh luar biasa, upaya saya berhasil. Dalam dua tahun, gerobak burger saya beranak menjadi lebih dari 40 buah. Saya pun pensiun menjajakan burger berkeliling dan menyerahkan semua pada anak buah.

Tak berhenti sampai di situ, tahun 1996 saya mencoba membuat roti sendiri dan membuat inovasi cita rasa saus. Seminggu berkutat di dapur, hasilnya tak mengecewakan. Saya berhasil menciptakan resep roti dan saus burger bercita rasa lidah orang Indonesia. Rasanya jelas berbeda dengan burger yang dijual di berbagai restoran cepat saji.

Kesuksesan Google

Kisah Sukses Google : ‘The Google Story’ 2005 ditulis oleh David A.Vise -Penulis Pemenang Pulitzer Prize- bersama Mark Malseed yang diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, Tahun 2006.

Penulis memulai uraian buku pada Bab I yang bertajuk ‘Pengabaian Sehat untuk yang Mustahil’ yang mengisahkan ketika kedua pendiri Google Larry Page dan Sergey Brin tengah melakukan semacam kuliah umum dan tatap muka dengan siswa SMA unggulan di suatu tempat di Negeri Israel pada suatu masa pada tahun 2005 saat Google tengah mendaki puncak sukses bisnis dan dalam kurun waktu tidak berapa lama lagi dipandang akan mampu melewati kekayaan dan kejayaan Microsoft-nya Bill Gates yang selama lebih dari satu dekade terakhir menjadi perusahaan IT yang paling kaya sedunia.

Penulis menggarisbawahi bahwa keunggulan Google dibanding Microsoft sang raksasa penguasa dunia piranti lunak masa kini, adalah kenyataan bahwa kiprah bisnis Google berjalan diatas 2 pijakan yakni dunia piranti lunak—dengan algoritma mesin pencarian inovatif model Page Rank System—serta dunia perangkat keras —yakni ribuan server komputer rakitan sendiri yang mat efisien dalam konsumsi daya namun berkemampaun kinerja amat tinggi yang dijalankan dengan aplikasi antar-muka komputer hasil rekayasa para insinyur Google sendiri—

Uraian penulis sebanyak 25 Bab lanjutan setelah bab pertama boleh dikata berupa kilas balik ke masa lampau lalu meruntut setapak demi setapak ke depan dalam urutan nyaris historis hingga sampai pada saat buku terbit pertama di AS akhir tahun 2005. Masa lampau itu yakni tahun
1998 saat mana dua serangkai Page dan Brin sama-sama masih berstatus mahasiswa program studi doktoral yang kebetulan ditempatkan pada ruangan kerja Room Gates 360 W.Gates Dept. Computer Science, Universitas Stanford —yang tidak lain menyandang nama donatur pemberi
dana ’sumbangan pembangunan gedung’ ialah : Bill Gates sang pendiri Microsoft—Seluruh 26 Bab buku pada buku setebal 336 hal ini secara khusus diberi kelengkapan lampiran tersendiri, a.l: Kinerja Laporan Keuangan Perusahaan, analisa pergerakkan nilai saham Google Inc (GOOG), dan yang unik dan istimewa yaitu lembar lampiran: GLAT - Google Lab Aptitude Test !
Setiap pembaca yang mampu mencetak skor tinggi dalam test GLAT dapat mengirimkan hasil testnya ke Googleplex Campus di Mountain View, CA, USA. Selebihnya : “If You are Brilliant, We’ll hire You “. Google —atau tepatnya googol— adalah sebuah kata yang mendefinisikan
bilangan teramat besar : angka 1 diikuti 10 pangkat 10 dibelakangnya yang dipandang pas sebagai nama perusahaan yang berkiprah di bidang mesin pencarian informasi yang jumlahnya segunung di dunia Internet.

Hubungan Agama dan Bisnis

“Masyarakat bawah, pengusaha UKM, itu sebenarnya secara spiritual sudah bagus. Spiritual dalam arti yang luas ya, seperti kejujuran mereka, ketabahan, dan sebagainya. Justru yang saya lihat kurang adalah apa yang disampaikan model SEPIA itu, yaitu kecerdasan Power dan kecerdasan Aspirasi. Mereka itu tidak punya jaringan dan tidak punya visi…,” kata Pak Agus Syarief. Artinya, kalau hanya sisi spiritual (SQ) yang dibangun, juga emosional (EQ) dan intelektual (IQ), belum akan menjawab permasalahan. Karena pada dasarnya teman-teman UKM (Usaha kecil dan Menengah) itu sudah memiliki ketrampilan, semangat, dan kejujuran. Yang paling kurang dari mereka adalah strategi dan aspirasi (visi) mereka.

Kami sedang duduk bersama makan siang, setelah sebelumnya selesai menyelenggarakan seminar SEPIA untuk para mahasiswa dan guru (yang hadir hampir 200 orang, yang jelas aulanya penuh). Malam sebelumnya kami selenggarakan seminar Financial Happiness untuk undangan terbatas (yang hadir sekitar 20 orang). Ini sudah prestasi, mengingat undangannya hanya model ‘gerilya’. Pak Agus itu tipe orang yang ‘walk the talk’, melakukan apa yang dia ucapkan. Walau hanya kenal melalui internet, beliau bilang melihat suatu hal unik pada SEPIA ini yang bisa diterapkan untuk pemberdayaan masyarakat. Memang sembari menjadi dosen ekonomi di Universitas Jambi, aktifitas beliau yang riil adalah membina para pengusaha UKM di wilayah Jambi.

“Itulah kenapa SEPIA ini menurut saya cocok sekali untuk disosialisasikan,” ujar Pak Agus lebih lanjut, “karena ada kecerdasan Power dan Aspirasi itu.” (Oo… begitu, batin saya.)

“Dan saya mengingatkan lagi kepada Pak Khairul, tahun 2010 itu sudah dekat loh, kan visi Pak Khairul di tahun itu SEPIA ini bisa menjadi model yang tersebar di seluruh Indonesia…,” ujarnya lagi. (Wah, Pak Agus ini lebih serius daripada saya ternyata, batin saya lagi.)

Lalu beliau bercerita bahwa mengundang saya ke Jambi bukan tanpa cobaan. Berat, katanya. Ada saja yang skeptis bahkan berprasangka yang kurang baik dengan kegiatan kami ini.

“Bahkan sempat dikatakan buku ini‘aliran sesat’. Kalau memang SQ, mana ayat-ayatnya? Saya jawab, memang ayatnya tidak ditulis, tapi keseluruhan buku itu sudah menggambarkan hal itu. Lihat saja bagian terakhir halaman penutup. Ada ayatnya di situ,” cerita beliau. “Yah, kita melakukan apa pun pasti ada saja yang mengkritik,” ujarnya. Kami tertawa bersama. (seringkali memang orang terjebak mengidentikkan SQ dengan agama, bukannya perilaku orang yang beragama)

Saya sudah sering membawakan SEPIA di luar Jawa. Namun kegiatan kali ini menjadi istimewa karena perkenalan kami betul-betul hanya melalui internet! (Biasanya kegiatan luar kota lainnya dimulai dari kenal lewat buku atau kegiatan lain.) Walaupun ini adalah kejadian ke dua setelah sebelumnya rekan-rekan dari PT Inti Optotama Jakarta juga mengundang hanya dengan kenal lewat internet, namun waktu itu SEPIA dibawakan khusus bagian SQ (kecerdasan spiritual) saja.

Lalu pikiran saya melayang mengingat kembali cita-cita sebuah perusahaan dengan 10 ribu karyawan. Bukankah perusahaan itu tidak perlu berwujud pabrik besar dengan 10 ribu karyawan? Bukankah bisa saja berwujud 1000 kantor kecil di 1000 kota dengan 10 karyawan, atau bisa juga 2000 kantor kecil dengan 5 karyawan? Tujuan usaha itu juga bukan untuk mencetak laba yang besar, cukup bisa ‘sustain’ saja sudah hebat (itu artinya ada 10 ribu keluarga bisa mendapat nafkah). Potensinya banyak, misalnya Bimbingan Belajar metode SEPIA, Career Day untuk SMA metode SEPIA (biasanya untuk menghadapi SPMB), penerimaan mahasiswa baru dan wisuda di universitas (untuk pembekalan kiat kuliah dan kiat bekerja), konsultasi keuangan keluarga metode SEPIA (mengatasi masalah kesejahteraan finansial), jualan poster-poster 5 kecerdasan SEPIA, pemberdayaan UKM metode SEPIA (terutama asesmen titik lemah perusahaan), buku kumpulan pengalaman inspiratif ‘Chicken Soup for Soul’ gaya SEPIA (sarana berbagi pengalaman), peningkatan mutu SDM perusahaan metode SEPIA (terutama meningkatkan PQ dan AQ, dua hal yang sering luput), program persiapan pensiun metode SEPIA (biar pesangon tidak menguap karena salah investasi), dll. Kekuatan metode SEPIA sesungguhnya ada pada pendekatan sinergi komprehensif dari 5 kecerdasan, dan tidak mengunggulkan sebagian kecerdasan atas kecerdasan yang lain (sekarang kan trend-nya sedang mengunggulkan SQ tuh! Padahal dalam realita hidup, menjadi baik dan shaleh saja sangat jauh dari cukup untuk meraih sukses.). Semua visi itu bisa terwujud melalui kerjasama dengan ribuan lembaga seperti Lembaga Manajemen Terapan (LMT) ‘Success’ yang dipimpin Pak Agus di Jambi. Kerjasama dengan LMT Success ini bisa menjadi model awal.

“Dan dari 10 karyawan itu mimpi saya ada 1 orang cacat yang dilibatkan. Kalau dia cacat kaki, bukankah masih bisa mengerjakan tugas di komputer seperti mendesain brosur misalnya? Kalau dia tuna rungu, bisa mengerjakan sesuatu yang memerlukan ketekunan. Mereka yang cacat itu terbatas sekali kesempatan kerjanya,” demikian saya ungkapkan kepada Pak Agus, setengah meminta persetujuan beliau.

Sebuah mimpi, katanya harus ditulis. Ketika mimpi itu ditulis, ia bisa menginspirasi diri sendiri, bahkan juga orang lain. Dan ketika sebuah mimpi telah menginspirasi, ia berpotensi mewujud, seringkali hampir dengan sendirinya.

“If you can dream it, you can do it. Always remember that this whole thing was started with a dream and a mouse.”

Kehidupan Milyarder

” Mana milyunernya? Mereka semua tidak ada yang terlihat seperti milyuner!” demikian komentar seorang vice president lembaga keuangan menanggapi sekelompok orang yang menjadi subyek penelitian tentang para milyuner. Betul, mereka memang tampak seperti orang biasa, berbaju biasa, memakan makanan biasa, bersikap seperti orang biasa. Sama sekali tidak tampak seperti gambaran milyuner yang sering muncul di televisi. Namun bila diteliti lebih lanjut, mereka adalah orang-orang yang sangat sukses di bidang masing-masing, dengan kekayaan bersih minimal di atas 1 juta dolar, setara di atas 10 milyar rupiah.

Banyak penelitian tentang para milyuner menunjukkan bahwa penampilan mereka jauh dari gambaran televisi. Televisi lebih banyak menggambarkan penampilan selebritis, yang dipandang umum sebagai penampilan milyuner. Kenyataannya, para milyuner datang dari berbagai kalangan, kontraktor las, penjual barang bekas, petani, pembasmi hama, hingga penjual koin. Kebanyakan mereka hidup relatif sederhana dibandingkan dengan jumlah kekayaannya. Mobil mereka seperti rata-rata milik orang kebanyakan, bukan model terbaru. Rumah mereka berada di perumahan orang kebanyakan. Mereka juga bergaul dengan orang kebanyakan. Sebagian besar dari mereka tidak suka tampil di depan publik. Namun yang jelas, mereka mempunyai satu kesamaan : sangat merdeka secara finansial. Cerita tentang para milyuner tersebut merupakan hasil survey penelitian tentang para milyuner di Amerika, yang dibukukan secara bagus oleh Dr. Stanley dalam karyanya The Millionaire Next Door.

Menjadi milyuner memang hanya salah satu ukuran keberhasilan seseorang. Masih banyak ukuran-ukuran pencapaian keberhasilan yang lain. Ada pencapaian keberhasilan dalam bidang politik, pelayanan masyarakat, ilmu pengetahuan, teknologi, seni, militer, dan lain sebagainya. Menjadi milyuner, yaitu suatu prestasi dalam finansial, menjadi ukuran sukses yang sangat mudah dipahami karena setiap orang tidak terlepas dari masalah finansial ini. Setiap orang dapat merasakan bahwa menjadi milyuner adalah sebuah pencapaian prestasi yang hebat. Uniknya, mereka yang mencapai sukses dalam hal finansial, seringkali memiliki kehidupan yang juga sehat di bidang lainnya. Hampir semuanya adalah pasangan yang awet puluhan tahun dalam kehidupan berkeluarga. Mereka juga aktif dalam kegiatan amal dan bermasyarakat. Mereka mempunyai anak-anak yang disiplin, berprestasi, bebas narkoba. Mereka memiliki kemerdekaan finansial, yang juga membantu mereka untuk berprestasi sama baiknya di banyak bidang non finansial.

Sukses dapat diprediksi! Seperti halnya bila Anda mau menuju ke suatu tempat, asalkan telah memilih arah yang benar, maka apakah ditempuh dengan merangkak, jalan kaki, atau berkendaraan, pasti suatu ketika akan sampai di tempat tujuan. Hanya masalah waktu yang membedakan. Sukses adalah buah dari perilaku, karena itu bila kita mempunyai perilaku orang sukses, pasti suatu saat menjadi sukses pula.. Perilaku adalah buah dari kebiasan. Kebiasaan dimulai dari sikap. Sikap dipengaruhi oleh keyakinan. Dan keyakinan dipengaruhi oleh pengetahuan. Jadi, awalnya adalah pengetahuan. Setiap hari, pengetahuan beredar secara berlimpah ruah di sekeliling kita. Kemampuan menangkap pengetahuan, merasakannya, menghayatinya, dan menjadikannya sebagai aksi untuk meraih tujuan, sangat dipengaruhi oleh kecerdasan.

Para milyuner seperti telah diduga, memiliki kecerdasan yang cukup baik. Lebih penting lagi, mereka memiliki kecerdasan yang berimbang. Mereka rata-rata bersekolah dengan baik. Kalaupun putus sekolah, itu dikarenakan kondisi ekonomi keluarga, bukan karena mereka tidak cerdas. Jadi para milyuner ini memiliki kecerdasan intelektual, IQ, yang baik. Mereka juga adalah orang-orang yang tangguh, ulet, sabar, mampu mengendalikan diri, bermasyarakat dengan baik, memiliki keluarga harmonis, dan berbagai hal lain yang menjadi bukti bahwa mereka memiliki kecerdasan emosional, EQ, yang baik. Semua dari mereka juga setuju bahwa kehidupan spiritual, pelayanan, dan sedekah adalah hal yang sangat penting. Kebanyakan dari mereka menyumbangkan penghasilan 10 persen atau lebih dari pendapatan kotor. Mereka meyakini Tuhan sebagai sumber pemberi rizki, sebagai pendamping yang tidak kelihatan, atau sering diistilahkan sebagai “silent partner”. Ini menunjukkan bahwa mereka memiliki kecerdasan spiritual, SQ yang sangat baik.

Yang menarik adalah, para milyuner ternyata memiliki lebih dari sekedar IQ, EQ, SQ!

Studi terhadap para milyuner dan orang-orang yang sangat sukses menujukkan bahwa mereka memiliki ciri-ciri lain yang menonjol. Pertama, mereka mempunyai mimpi yang besar, tujuan yang jelas, dan teguh memegang mimpinya tersebut. Kedua, mereka tidak bekerja sendirian, mereka mampu memanfaatkan kekuatan yang ada di dalam dirinya maupun di sekeliling dirinya. Jadi, mereka mengembangkan dua kecerdasan lainnya sebagai pelengkap dari IQ-EQ-SQ. Mereka mengembangkan kecerdasan yang disebut Kecerdasan Aspirasi (Aspiration Intelligence), dan Kecerdasan Kekuatan (Power Intelligence). Inilah yang menjadi rahasia para milyuner dan orang-orang sukses, mereka secara simultan mengembangkan lima kecerdasan dengan seimbang!

Cepiar Property

Cepiar Property is proud to present a range of unique resorts from the Karawang Cepiar City in West Java Indonesia. Karawang Cepiar City offers you super quality properties, including: apartments, townhouses, cottages, villas, country houses and real estate for sale in privileged locations on three unique and exciting resort developments in the Karawang Cepiar City in West Java. Each resort is special and entirely unique to anything else on the coast of West Java.

There are something for everyone - beaches, golf, water sports, outdoor living, fitness, relaxation, quality of life and a genuine Indonesian lifestyle with a true warmth of spirit. The unhurried rhythm of daily life, its celebrations, sociability and the region’s emphasis on the outdoors creates an easy, relaxed, atmosphere. With its culture, welcoming locals, sense of well-being, the Karawang Cepiar City’s many lifestyles are easy to embrace. The Karawang Cepiar City has Sun filled days on beaches, exploring the surrounding countryside, playing golf or a variety of other sports - all against a back drop of Indonesian tradition with lively fiestas, vibrant bars and fine restaurants and colorful local markets. The sheer beauty of the dramatic and rugged countryside, the golden light and the contrasting deep azure night sky create a sensation of timelessness and space. Variety is the essence of the Karawang Cepiar City region and whatever your needs and interests, you will find plenty to enjoy.

For more details on the luxury resorts of the Karawang Cepiar City, please contact Property Partners Head Office on +62 21 98844249 cepiar.car@Gmail.com

An entrepreneur and Person

Do You know about Entrepreneur? An entrepreneur risks his own capital, services, and skills in a company (or in several companies). Entrepreneurs exemplify the Indonesian dream—working without a boss and using their own hands to build a livelihood. Successful entrepreneurs seem to have a number of similar qualities. First, they know business, either from their own experience or through extensive research. Second, they are extremely motivated. The average number of working hours per week of a successful starting entrepreneur is seventy. This catches the typical Indonesian dreamer by surprise. Third, successful entrepreneurs become obsessed with—or at least fascinated by—all parts of their chosen area of expertise.

No aspect of the business is too large or too small to consider. The best thing about being an entrepreneur is that they control their own destinies to a greater extent than if they were working for someone else. Unlike working for someone else who judges their work and assigns a value to their services, every stitch of work they do goes toward their betterment. This puts immense pressure on the entrepreneurs, but it can also be the source of immense pleasure. The most important entrepreneurial concerns should be thought about long before the person starts her own business. She must know how to run the company and when to reassess management strategies. She must be on top of issues of cash flow, expansion (or consolidation), liquidity, and corporate governance. Over three-fifths of new businesses and franchises fail within eighteen months of opening their doors. Many of the factors leading to failure are uncontrollable by the entrepreneur. If she’s trying to sell widgets, and a widgets superstore opens down the street, she may be sunk. Being an entrepreneur means thinking about the business all the time, accepting its responsibilities and its failures. Big Entrepreneur in Indonesia; Budi Hartono, Tomy Winata, Ir. Ciputra, Arifin Panigoro, Aburizal Bakrie, etc.