Fauzi Saleh, contoh seorang pengusaha sukses sekaligus dermawan. Ini berkat kompak dengan karyawannya. Derai tawa dan langgam bicaranya khas betawi. Itulah gaya H. Fauzi Saleh dalam meladeni tamunya.
Pengusaha perumahan mewah Pesona Depok dan Pesona Khayangan yang hanya lulusan SMP tersebut memang lahir dan dibesarkan di kawasan Tanah Abang, Jakarta. Setamat dari SMP pada tahun 1966, beliau telah merasakan kerasnya kehidupan di ibukota.
Saat itu Fauzi terpaksa bekerja sebagai pencuci mobil di sebuah bengkel dengan gaji Rp 700 per minggu. Bahkan delapan tahun silam, dia masih dikenal sebagai penjaga gudang di sebuah perusahaan. Tapi, kehidupan ibarat roda yang berputar.
Sekarang posisi ayah 6 anak yang berusia 45 tahun ini sedang berada di atas. Pada hari ulang tahunnya itu, pria bertubuh kecil ini memberikan 50 unit mobil kepada 50 dari sekitar 100 karyawan tetapnya. Selain itu para karyawan tetap dan sekitar 2.000 buruh mendapat bonus sebulan gaji. Total Dalam setahun, karyawan dan buruhnya mendapat 22 kali gaji sebagai tambahan, 3 bulan gaji saat Idul Fitri, 2 bulan gaji saat bulan Ramadhan dan Hari Raya Haji, dan 1 bulan gaji saat 17 Agustus, tahun baru dan hari ulang tahun Fauzi. Selain itu, setiap karyawan dan buruh mendapat Rp 5.000 saat selesai shalat Jumat dari masjid miliknya di kompleks perumahan Pesona Depok.
Sikap dermawan ini tampaknya tak lepas dari pandangan Fauzi, yang menilai orang-orang yang bekerja padanya sebagai kekasih. “Karena mereka bekerjalah saya mendapat rezeki.”, katanya.
Manajemen kasih sayang yang diterapkan Fauzi ternyata ampuh untuk memajukan perusahaan. Seluruh karyawan bekerja bahu-membahu.
“Mereka seperti bekerja di perusahaan sendiri.” Katanya.
Prinsip manajemen “Bismillah” itu telah dilakukan ketika mulai berusaha pada tahun 1989 silam, yaitu setelah dia berhenti bekerja sebagai petugas keamanan. Berbekal uang simpanan dari hasil ngobyek sebagai tukang taman, sebesar 30 juta, beliau kemudian membeli tanah 6 x 15 meter sekaligus membangun rumah di jalan jatipadang, jakarta selatan.
Untuk menyiapkan rumah itu secara utuh diperlukan tambahan dana sebesar 10 juta. Meski demikian, Fauzi tidak berputus asa. Setiap malam jumat, Fauzi dan pekerjanya sebanyak 12 orang, selalu melakukan wirid Yasiin, zikir dan memanjatkan doa agar usaha yang sedang mereka rintis bisa berhasil.
Mungkin karena usaha itu dimulai dengan sikap pasrah, rumah itupun siap juga. Nasib baik memihak Fauzi. Rumah yang beliau bangun itu laku Rp 51 juta. Uang hasil penjualan itu selanjutnya digunakan untuk membeli tanah, membangun rumah, dan menjual kembali. Begitu seterusnya, hingga pada 1992 usaha Fauzi membesar. Tahun itu, lewat PT. Pedoman Tata Bangun yang beliau dirikan, Fauzi mulai membangun 470 unit rumah mewah Pesona Depok 1 dan dilanjutkan dengan 360 unit rumah pesona Depok 2.
Selanjutnya dibangun pula Pesona Khayangan yang juga di Depok. Kini telah dibangun Pesona Khayangan 1 sebanyak 500 unit rumah dan pesona khayangan 2 sebanyak 1100 unit rumah. Sedangkan pesona khayangan 3 dan 4 masih dalam tahap pematangan tanah.
Harga rumah group pesona milik Fauzi tersebut antara 200 juta hingga 600 juta per unit. Yang menarik tradisi pengajian setiap malam jumat yang dilakukannya sejak awal, tidak ditinggalkan. Sekali dalam sebulan, dia menggelar pengajian akbar yang disebut dengan pesona dzikir yang dihadiri seluruh buruh, keluarga dan kerabat di komplek pesona khayangan pertengahan september lalu, ada sekitar 4.000 orang yang hadir. Setiap orang yang hadir mendapatkan sarung dan 3 stel gamis untuk shalat. Setelah itu, ketika beranjak pulang, setiap orang tanpa kecuali, diberi nasi kotak dan uang Rp 10.000. tidak mengherankan, suasana berlangsung sangat akrab. Mereka saling bersalaman dan berpelukan. Tidak ada perbedaan antara bawahan dan atasan.
Menurut Fauzi, beliau sendiri tidak pernah membayangkan akan menjadi> seperti ini.
“Ini semua dari Alloh. Saya tidak ada apa2nya.” Kata pria yang sehari-hari berpenampilan sederhana ini. Karena menyadari bahwa semua harta itu pemberian Alloh, Fauzi tidak lupa mengembalikannya dalam bentuk infak dan shadaqoh kepada yang membutuhkan. Tercatat, beberapa masjid telah dia bangun dan sejumlah kaum dhuafa dan janda telah disantuninya. Usaha yang dijalankannya tersebut, menurut Fauzi ibarat menanam padi.
“Dengan bertanam padi, rumput dan ilalang akan tumbuh. Ini berbeda kalaukita bertanam rumput, padi tidak akan tumbuh”. Kata Fauzi.
Artinya, Fauzi tidak menginginkan hasil usaha untuk dirinya sendiri.
“Saya hanya mengambil, sekedarnya, selebihnya digunakan untuk kesejahteraan karyawan dan sosial.” Katanya.
Sekitar 60 % keuntungan digunakan untuk kegiatan sosial, sedangkan selebihnya dipakai sebagai modal usaha. Sejak empat tahun lalu, ada Rp 70 milyar yang digunakan untuk kegiatan sosial.
“Jadi, keuntungan perusahaan ini adalah nol.” Kata Fauzi.
” Jika setiap bangun pagi , kita bisa mensyukuri dengan tulus apa yang telah kita miliki hari ini, niscaya sepanjang hari kita bisa menikmati hidup ini dengan bahagia”
Rabu, 16 Januari 2008
Kisah Sukses CEO Yang Eksentrik
Untuk menjadi pemimpin hebat, zuhud adalah prasyarat utama. Inilah kisah sukses CEO yang tak begitu dikenal, tapi ternyata berprestasi lebih hebat ketimbang Jack Welch dan eksekutif selebriti lain.
Suatu siang pada 1971, Darwin E. Smith terpilih menjadi CEO Kimberly-Clark, perusahaan kertas tua, yang selama 20 tahun terakhir nilai sahamnya anjlok 36% dibanding pasar secara umum. Smith yang pengacara di Kimberly-Clark itu tak yakin ia pilihan tepat. Apalagi, seusai pemilihan, seorang direktur menghampiri dan mengingatkan bahwa ia sebenarnya tidak memenuhi beberapa prasyarat untuk jabatan eksekutif puncak tersebut.
Tetapi, sejarah mencatat, Smith bukan hanya mampu bertahan sebagai CEO selama 20 tahun. Lebih dari itu, dalam dua dasawarsa kepemimpinannya, lelaki santun tersebut berhasil mengibarkan Kimberly-Clark jadi perusahaan produk konsumer berbasis kertas yang memberikan return saham kumulatif 4,1 kali lipat rata-rata pasar mengalahkan baik pesaing lama (Scott Paper) maupun baru (Procter & Gamble), bahkan lebih tinggi tinggi ketimbang kampiun industri seperti Coca-Cola, Hewlett-Packard, 3M, dan General Electric.
Kinerja yang mengesankan, tulis Jim Collins dalam bukunya yang laris, Good to Great. Salah satu contoh terbaik dari sukses membawa perusahaan yang bagus menjadi perusahaan yang hebat, pada abad ke-20.Kendati demikian, tak banyak orang bahkan dari kalangan pemerhati sejarah manajemen dan korporasi yang tahu siapa itu Darwin Smith. Musababnya? Mungkin karena Smith sendiri lebih suka tetap tak dikenal. Ia lebih suka bergaul dengan penebang kayu dan menghabiskan liburannya dengan berkeliling naik traktor di tanah pertaniannya Wisconsin ketimbang melobi kalangan pers. Tak heran kalau namanya tak pernah berkibar sebagai selebriti, apalagi pahlawan.
Ketika seorang wartawan bertanya tentang gaya manajemennya, Smith yang berpenampilan sederhana dengan jas usang dari J.C. Penney department store kelas menengah bawah cuma menatap bingung dari balik kaca matanya yang tebal. Setelah terdiam beberapa lama, baru dari mulutnya keluar jawaban singkat: Eksentrik.Smith memang sangat pemalu dan rendah hati. Tetapi, bukan berarti ia lembek. Lahir dari keluarga petani miskin, siang hari Smith muda harus bekerja di International Harvester agar bisa kuliah malam di Indiana University. Suatu hari terpotong. Dan, ceritanya, ia tetap masuk kuliah malam harinya, lalu masuk kerja lagi keesokan harinya. Hebatnya lagi, walau kuliah sambil kerja full time, Smith diterima di salah satu program pascasarjana ilmu hukum paling bergengsi di dunia: Harvard Law School.
Belakangan, hanya dua bulan menduduki kursi CEO, Smith didiagnosis menderita kanker hidung dan tenggorokan, dan diramalkan tak akan bertahan hidup sampai setahun. Ia memberi tahu Dewan Direksi tetapi meyakinkan mereka, Aku belum mati dan tak berencana mati dalam waktu dekat.Smith membuktikan ucapannya. Ia memenuhi seluruh jadwal kerjanya yang ketat, walau setiap akhir pekan harus melakukan perjalanan dari Wisconsin ke Houston, Texas, untuk radioterapi dan hidup sampai 25 tahun kemudian sebagian besar sebagai CEO. Yang lebih hebat lagi, ia menunjukkan kegigihan yang sama ketika mengibarkan kembali Kimberly-Clark yang terpuruk, terutama ketika menuntaskan keputusan paling dramatis dalam sejarah perusahaan kertas tersebut: Melego pabrik kertas yang merupakan sumber utama pendapatan mereka.
Tak lama setelah menduduki kursi CEO, Smith dan timnya menyimpulkan bahwa bisnis inti tradisional mereka coated paper tak bisa diandalkan lagi. Matematika bisnisnya jelek dan daya saingnya lemah. Di sisi lain, mereka melihat, kalau Kimberly-Clark berani terjun ke industri konsumer produk kertas, pesaing kelas dunia seperti P&G akan memaksa mereka untuk besar atau, sebaliknya, hancur.
Suatu siang pada 1971, Darwin E. Smith terpilih menjadi CEO Kimberly-Clark, perusahaan kertas tua, yang selama 20 tahun terakhir nilai sahamnya anjlok 36% dibanding pasar secara umum. Smith yang pengacara di Kimberly-Clark itu tak yakin ia pilihan tepat. Apalagi, seusai pemilihan, seorang direktur menghampiri dan mengingatkan bahwa ia sebenarnya tidak memenuhi beberapa prasyarat untuk jabatan eksekutif puncak tersebut.
Tetapi, sejarah mencatat, Smith bukan hanya mampu bertahan sebagai CEO selama 20 tahun. Lebih dari itu, dalam dua dasawarsa kepemimpinannya, lelaki santun tersebut berhasil mengibarkan Kimberly-Clark jadi perusahaan produk konsumer berbasis kertas yang memberikan return saham kumulatif 4,1 kali lipat rata-rata pasar mengalahkan baik pesaing lama (Scott Paper) maupun baru (Procter & Gamble), bahkan lebih tinggi tinggi ketimbang kampiun industri seperti Coca-Cola, Hewlett-Packard, 3M, dan General Electric.
Kinerja yang mengesankan, tulis Jim Collins dalam bukunya yang laris, Good to Great. Salah satu contoh terbaik dari sukses membawa perusahaan yang bagus menjadi perusahaan yang hebat, pada abad ke-20.Kendati demikian, tak banyak orang bahkan dari kalangan pemerhati sejarah manajemen dan korporasi yang tahu siapa itu Darwin Smith. Musababnya? Mungkin karena Smith sendiri lebih suka tetap tak dikenal. Ia lebih suka bergaul dengan penebang kayu dan menghabiskan liburannya dengan berkeliling naik traktor di tanah pertaniannya Wisconsin ketimbang melobi kalangan pers. Tak heran kalau namanya tak pernah berkibar sebagai selebriti, apalagi pahlawan.
Ketika seorang wartawan bertanya tentang gaya manajemennya, Smith yang berpenampilan sederhana dengan jas usang dari J.C. Penney department store kelas menengah bawah cuma menatap bingung dari balik kaca matanya yang tebal. Setelah terdiam beberapa lama, baru dari mulutnya keluar jawaban singkat: Eksentrik.Smith memang sangat pemalu dan rendah hati. Tetapi, bukan berarti ia lembek. Lahir dari keluarga petani miskin, siang hari Smith muda harus bekerja di International Harvester agar bisa kuliah malam di Indiana University. Suatu hari terpotong. Dan, ceritanya, ia tetap masuk kuliah malam harinya, lalu masuk kerja lagi keesokan harinya. Hebatnya lagi, walau kuliah sambil kerja full time, Smith diterima di salah satu program pascasarjana ilmu hukum paling bergengsi di dunia: Harvard Law School.
Belakangan, hanya dua bulan menduduki kursi CEO, Smith didiagnosis menderita kanker hidung dan tenggorokan, dan diramalkan tak akan bertahan hidup sampai setahun. Ia memberi tahu Dewan Direksi tetapi meyakinkan mereka, Aku belum mati dan tak berencana mati dalam waktu dekat.Smith membuktikan ucapannya. Ia memenuhi seluruh jadwal kerjanya yang ketat, walau setiap akhir pekan harus melakukan perjalanan dari Wisconsin ke Houston, Texas, untuk radioterapi dan hidup sampai 25 tahun kemudian sebagian besar sebagai CEO. Yang lebih hebat lagi, ia menunjukkan kegigihan yang sama ketika mengibarkan kembali Kimberly-Clark yang terpuruk, terutama ketika menuntaskan keputusan paling dramatis dalam sejarah perusahaan kertas tersebut: Melego pabrik kertas yang merupakan sumber utama pendapatan mereka.
Tak lama setelah menduduki kursi CEO, Smith dan timnya menyimpulkan bahwa bisnis inti tradisional mereka coated paper tak bisa diandalkan lagi. Matematika bisnisnya jelek dan daya saingnya lemah. Di sisi lain, mereka melihat, kalau Kimberly-Clark berani terjun ke industri konsumer produk kertas, pesaing kelas dunia seperti P&G akan memaksa mereka untuk besar atau, sebaliknya, hancur.
Kisah Sukses Mitra Toyota
OlehSigit Wibowo
Jakarta—Siapa yang membayangkan orang yang dulunya bekerja di bagian produksi pabrik Toyota Astra Motor (TAM) bisa mengubah nasibnya menjadi rekanan yang memasok komponen pada perusahaan otomotif terbesar di Indonesia tersebut?
Mungkin ada, tidak tidak terlalu banyak. Dan salah satunya adalah Nur Dahyar. Nur—demikian ia biasa dipanggil-membuka usaha pallet setelah “mencuri” ilmu di TAM selama 9 tahun. Saat ini pallet buatan perusahaannya tidak saja digunakan memenuhi kebutuhan dalam negeri tetapi juga diekspor ke luar negeri. “Sejak awal saya memang mempunyai rencana menjadi pengusaha,” ujarnya.Pada saat bekerja di Toyota tahun 1978 ia hanya berbekal ijazah SLTP. Namun keinginannya menjadi seorang pengusaha tidak pernah mati, sembari bekerja di Toyota pada malam harinya ia bersekolah SMA hingga lulus Akademi D3 komputer. Ketika bekerja di Toyota, ia pun bertekat menguasai semua bidang sehingga ia minta kepada atasannya supaya di-rolling dari satu bidang ke bidang lain.Maka sejumlah bidang di industri otomotif ini sudah ia jalani. Mulai dari bidang pengelasan, press, pengepakan, pergudangan dan lainnya. Setelah ia memperoleh cukup ilmu akhirnya ia keluar untuk mendirikan perusahaan kecil-kecilan.Secara kebetulan ketika di Toyota ia kenal dengan Setiadi, seorang teknisi mesin yang bekerja di PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo). Hubungan pertemanan ini berlanjut menjadi hubungan bisnis. Nur Dahyar lalu mendirikan perusahaan yang diberi nama PT Nuansa Raya Dinamika (NRD) tahun 1997.Modal awal pengembangan usaha NRD berasal dari pinjaman BNI sebesar Rp 50 juta. Pertama kali memperoleh order dari Pelindo lewat jasa temannya tersebut. Proyek yang ditanganinya adalah pembuatan 9 pemancar lampu (tower) senilai Rp 135 juta yang dilaksanakan dalam beberapa periode.“Pada bulan pertama NRD menyelesaikan order sebesar Rp 15 juta tetapi biaya yang dikeluarkan sebanyak Rp 25 juta,” ujarnya. Hal ini wajar mengingat NRD harus menginvestasikan mesin dan peralatan lain. Setelah memiliki prospek yang baik koleganya tersebut mengajukan pensiun dini agar bisa fokus dalam mengembangkan perusahaan tersebut. Pada mulanya 100 persen saham dimiliki Nur Dahyar tetapi setelah Setiadi bergabung komposisi kepemilikan saham fity-fifty.“Kami membina hubungan berdasarkan prinsip saling percaya, walaupun sering kali beda pendapat tetapi sampai sekarang masih bisa bertahan,” kata Setiadi. Jika Dahyar lebih menguasai proses produksi maka Setiadi menangani yang berkaitan masalah keuangan. Pembagian tugas yang jelas menyebabkan masing-masing orang tahu apa yang harus dilakukan dan bidang apa yang harus dikerjakan.
Beralih ke Besi/bajaSemula NRD memproduksi pallet yang terbuat dari kayu tetapi mulai tahun 2001 beralih dengan bahan baku dari besi/baja. Sejak tahun 2002 pallet buatan NRD semua berasal dai besi/baja. Hal ini disebabkan negara seperti Malaysia dan Australia sudah tidak mau menerima pallet yang terbuat dari kayu karena menciptakan masalah lingkungan.Saat ini produk yang dihasilkan NRD tidak saja pallet baja tetapi juga peralatan konstruksi baja dan mesin-mesin sederhana. NRD telah berkembang menjadi tiga pabrik kecil yang menempati wilayah seluas 2560 meter persegi di daerah Semper. 55 persen produksi NRD untuk memasok kebutuhan Toyota sedangkan 45 persen kepada pelanggan lain. Tercatat beberapa perusahaan seperti PT Maersk Line, SCI, American Line, Mulia Keramik mengguanakan produk NRD.Saat ini beberapa bank telah menyalurkan kredit pada UKM ini yakni Bank Niaga, Bank Permata dan Citibank. “Sekarang kredit yang bisa dikucurkan bisa mencapai Rp 1 miliar per bulan seiring dengan perkembangan perusahaan,” kata Setiadi. Ia merasa bersyukur karena omzet perusahaan yang semula hanya dibawah Rp 100 juta sekarang sudah mencapai Rp 14 miliar.Setiadi memperkirakan omset perusahaan di akhir tahun bisa mencapai Rp 20 miliar. Meskipun masih mengandalkan produksi pallet baja tetapi produk-produk lain non-pallet akan ditingkatkan. Pada 2005-2007, NRD ingin masuk pada pengembangan produk komponen mesin. Rencananya 2007-2010 investasi peralatan dan mesin-mesin sudah bisa dilakukan dan akhir tahun 2010 sudah bisa berproduksi.Khusus bahan baku perusahaannya dipasok oleh PT Krakatau Steel melalui 5 distributor dan pipa dari perusahaan Bakrie. Sejauh ini pasokan lancar sehingga produksi tidak terganggu. Namun penguatan dolar terhadap rupiah akhir-akhir ini menyebabkan kekhawatiran karena dampaknya sangat buruk bagi usahanya.Sementara untuk jumlah karyawan terus meningkat dari tahun 1997 yang hanya Nur Dahyar dengan anggota keluarga saja. Tahun 1998 berjumlah 7 orang sekarang sudah berkembang menjadi 122 orang. Kebanyakan atau sekitar 78 orang merupakan lulusan smu, 3 dari akedemi, 6 orang univeritas dan sisanya pendidikan SD dan SMP.Jepang ingin masukSetelah melihat prospek bisnis yang baik maka ancaman terbesar yang dihadapi perusahaan adalah rencana perusahaan Jepang melakukan investasi di sektor ini. Hal inilah yang dikhawatirkan karena bisa mengancam eksistensi NRD. Namun kebijakan Toyota yang tetap ingin mempertahankan partner lokal menyebabkan mereka belum bisa masuk.Tetapi indikasi perusahaan Jepang ingin masuk ke sektor ini sudah ada. “Kami meminta pemerintah memperhatikan ini sebab secara modal dan teknologi mereka pasti tidak kalah,” kata Dahyar.Sebelumnya tahun 2004 NRD juga terancam setelah produk-produk bajakan dengan harga murah dari Cina diselundupkan melalui berbagai pelabuhan. “Modusnya mereka bekerja sama dengan beberapa orang aparat bea cukai untuk meloloskannya,” ujarnya
Jakarta—Siapa yang membayangkan orang yang dulunya bekerja di bagian produksi pabrik Toyota Astra Motor (TAM) bisa mengubah nasibnya menjadi rekanan yang memasok komponen pada perusahaan otomotif terbesar di Indonesia tersebut?
Mungkin ada, tidak tidak terlalu banyak. Dan salah satunya adalah Nur Dahyar. Nur—demikian ia biasa dipanggil-membuka usaha pallet setelah “mencuri” ilmu di TAM selama 9 tahun. Saat ini pallet buatan perusahaannya tidak saja digunakan memenuhi kebutuhan dalam negeri tetapi juga diekspor ke luar negeri. “Sejak awal saya memang mempunyai rencana menjadi pengusaha,” ujarnya.Pada saat bekerja di Toyota tahun 1978 ia hanya berbekal ijazah SLTP. Namun keinginannya menjadi seorang pengusaha tidak pernah mati, sembari bekerja di Toyota pada malam harinya ia bersekolah SMA hingga lulus Akademi D3 komputer. Ketika bekerja di Toyota, ia pun bertekat menguasai semua bidang sehingga ia minta kepada atasannya supaya di-rolling dari satu bidang ke bidang lain.Maka sejumlah bidang di industri otomotif ini sudah ia jalani. Mulai dari bidang pengelasan, press, pengepakan, pergudangan dan lainnya. Setelah ia memperoleh cukup ilmu akhirnya ia keluar untuk mendirikan perusahaan kecil-kecilan.Secara kebetulan ketika di Toyota ia kenal dengan Setiadi, seorang teknisi mesin yang bekerja di PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo). Hubungan pertemanan ini berlanjut menjadi hubungan bisnis. Nur Dahyar lalu mendirikan perusahaan yang diberi nama PT Nuansa Raya Dinamika (NRD) tahun 1997.Modal awal pengembangan usaha NRD berasal dari pinjaman BNI sebesar Rp 50 juta. Pertama kali memperoleh order dari Pelindo lewat jasa temannya tersebut. Proyek yang ditanganinya adalah pembuatan 9 pemancar lampu (tower) senilai Rp 135 juta yang dilaksanakan dalam beberapa periode.“Pada bulan pertama NRD menyelesaikan order sebesar Rp 15 juta tetapi biaya yang dikeluarkan sebanyak Rp 25 juta,” ujarnya. Hal ini wajar mengingat NRD harus menginvestasikan mesin dan peralatan lain. Setelah memiliki prospek yang baik koleganya tersebut mengajukan pensiun dini agar bisa fokus dalam mengembangkan perusahaan tersebut. Pada mulanya 100 persen saham dimiliki Nur Dahyar tetapi setelah Setiadi bergabung komposisi kepemilikan saham fity-fifty.“Kami membina hubungan berdasarkan prinsip saling percaya, walaupun sering kali beda pendapat tetapi sampai sekarang masih bisa bertahan,” kata Setiadi. Jika Dahyar lebih menguasai proses produksi maka Setiadi menangani yang berkaitan masalah keuangan. Pembagian tugas yang jelas menyebabkan masing-masing orang tahu apa yang harus dilakukan dan bidang apa yang harus dikerjakan.
Beralih ke Besi/bajaSemula NRD memproduksi pallet yang terbuat dari kayu tetapi mulai tahun 2001 beralih dengan bahan baku dari besi/baja. Sejak tahun 2002 pallet buatan NRD semua berasal dai besi/baja. Hal ini disebabkan negara seperti Malaysia dan Australia sudah tidak mau menerima pallet yang terbuat dari kayu karena menciptakan masalah lingkungan.Saat ini produk yang dihasilkan NRD tidak saja pallet baja tetapi juga peralatan konstruksi baja dan mesin-mesin sederhana. NRD telah berkembang menjadi tiga pabrik kecil yang menempati wilayah seluas 2560 meter persegi di daerah Semper. 55 persen produksi NRD untuk memasok kebutuhan Toyota sedangkan 45 persen kepada pelanggan lain. Tercatat beberapa perusahaan seperti PT Maersk Line, SCI, American Line, Mulia Keramik mengguanakan produk NRD.Saat ini beberapa bank telah menyalurkan kredit pada UKM ini yakni Bank Niaga, Bank Permata dan Citibank. “Sekarang kredit yang bisa dikucurkan bisa mencapai Rp 1 miliar per bulan seiring dengan perkembangan perusahaan,” kata Setiadi. Ia merasa bersyukur karena omzet perusahaan yang semula hanya dibawah Rp 100 juta sekarang sudah mencapai Rp 14 miliar.Setiadi memperkirakan omset perusahaan di akhir tahun bisa mencapai Rp 20 miliar. Meskipun masih mengandalkan produksi pallet baja tetapi produk-produk lain non-pallet akan ditingkatkan. Pada 2005-2007, NRD ingin masuk pada pengembangan produk komponen mesin. Rencananya 2007-2010 investasi peralatan dan mesin-mesin sudah bisa dilakukan dan akhir tahun 2010 sudah bisa berproduksi.Khusus bahan baku perusahaannya dipasok oleh PT Krakatau Steel melalui 5 distributor dan pipa dari perusahaan Bakrie. Sejauh ini pasokan lancar sehingga produksi tidak terganggu. Namun penguatan dolar terhadap rupiah akhir-akhir ini menyebabkan kekhawatiran karena dampaknya sangat buruk bagi usahanya.Sementara untuk jumlah karyawan terus meningkat dari tahun 1997 yang hanya Nur Dahyar dengan anggota keluarga saja. Tahun 1998 berjumlah 7 orang sekarang sudah berkembang menjadi 122 orang. Kebanyakan atau sekitar 78 orang merupakan lulusan smu, 3 dari akedemi, 6 orang univeritas dan sisanya pendidikan SD dan SMP.Jepang ingin masukSetelah melihat prospek bisnis yang baik maka ancaman terbesar yang dihadapi perusahaan adalah rencana perusahaan Jepang melakukan investasi di sektor ini. Hal inilah yang dikhawatirkan karena bisa mengancam eksistensi NRD. Namun kebijakan Toyota yang tetap ingin mempertahankan partner lokal menyebabkan mereka belum bisa masuk.Tetapi indikasi perusahaan Jepang ingin masuk ke sektor ini sudah ada. “Kami meminta pemerintah memperhatikan ini sebab secara modal dan teknologi mereka pasti tidak kalah,” kata Dahyar.Sebelumnya tahun 2004 NRD juga terancam setelah produk-produk bajakan dengan harga murah dari Cina diselundupkan melalui berbagai pelabuhan. “Modusnya mereka bekerja sama dengan beberapa orang aparat bea cukai untuk meloloskannya,” ujarnya
Label:
astra,
cara Bisnis,
kisah nyata,
kisah sukses,
toyota
Muhammad Yunus dan Grameen Bank
“Beri tepuk tangan untuk kawan kita, teladan perjuangan melawan kemiskinan.” Hugo Cavez, Presiden Venezuela
Seraya berekspansi, kami pantau kemajuan para peminjam melalui siklus pinjaman berturutan. Kebanyakan, besaran pinjaman mereka meingkat sejalan pertumbuhan bisnis dan meningkatnya kepercayaan dirinya. Beberapa peminjam yang paling dinamis menggunakan laba yang didapatnya untuk membangun rumah baru atau memperbaiki rumahnya sekarang. Tiap kali saya mengunjungi sebuah desa dan melihat sebuah rumah dibangun dari laba usaha yang dibiayai Grameen, saya merasa tergetar, meski saya masih menyesal karena ada banyak peminjam lainnya yang tidak mampu melakukan investasi besar macam itu.
Tahun 1984, saya lihat iklan Bank Sentral bangladesh yang mengumumkan rencana pembiayaan baru untuk kredit kepemilikan rumah (KPR) di wilayah pedesaan. Menanggapi iklan itu, Grameen Bank mengajukan ke Bank Sentral permohonan bantuan untuk mengenalkan program KPR ke peminjam. Kami jelaskan bahwa kami dibatasi oleh kondisi para peminjam kami yang sangat sederhana, yang tidak bisa membayar uang sebesar yang disebutkan dalam iklan Bank Sentral. Para peminjam kami tidak bisa meminjam 75.000 taka (sekitar AS$2.000), tetapi kami sungguh ingin meminjamkan KPR sejumlah 5.000 taka (AS$125) untuk mereka.
Permohonan kami ditolak. Para staf ahli dan konsultan Bank Sentral memutuskan bahwa apapun yang dibangun dengan harga AS$125 tidak akan memenuhi pengertian struktural sebuah rumah. Secara spesifik mereka nyatakan bahwa rumah macam itu tidak sesuai dengan “jenis rumah di negeri ini”.
Saya protes. “Siapa peduli dengan ‘jenis rumah di negeri ini’?” ujar saya. “Yang kami inginkan adalah atap yang tidak bocor dan ruang kering yang bisa dihuni oleh para anggota kami.”
Kami berusaha agar konsultan-konsultan Bank Sentral bisa melihat sendiri dampak besar kredit rumah yang sangat kecil ini terhadap kondisi para peminjam kami saat ini. Tetapi semua argumentasi kami kandas. Mereka tidak akan mengalah.
Lalu kami munculkan gagasan lain. Kami mengirimkan permohonan kedua yang menjelaskan bahwa kami tidak lagi menginginkan memberikan kredit perumahan, melainkan ‘kredit tempat tinggal’. Kami harap mereka tidak memiliki definisi atau statistik tentang ‘jenis tempat tinggal’ yang bisa mendiskualifikasi kami. Meski konsultan penanggungjawab proyek tidak memperlihatkan penolakan terhadap ide soal kredit tempat tinggal ini, ekonom dalam kelompok mereka berpendapat bahwa peminjam kami tidak akan mampu membayar pinjaman yang bukan untuk menghasilkan pendapatan. Grameen bisa berjalan karena pinjaman yang diberikannya ditujukan untuk menghasilkan pendapatan, atau yang mereka sebut ‘kegiatan produktif’, tetapi kredit tempat tinggal merupakan ‘kegiatan konsumsi’. Para peminjam kami tidak akan sanggup membayar kembali utangnya dari pinjaman yang tidak menghasilkan pendapatan ini.
Kami pun kembali ke meja rapat. Kali ini kami katakan bahwa kami ingin menawarkan ‘kredit untuk pabrik’ pada para peminjam. Kami jelaskan bahwa mayoritas peminjam adalah perempuan dan mereka ini bekerja di rumahnya. “Peminjam kami memperoleh pendapatan dari pekerjaaan yang dilakukan sambil mengasuh anak,” jelas saya. “Kegiatan macam ini kebanyakan dilakukan di rumah mereka sendiri. Karena merupakan tempat bekerja, kami menyebut rumah mereka sebagai pabrik. Nah, musim hujan merundung mereka selama lima bulan dalam setahun. Selama itu, mereka tidak bisa bekerja karena tidak memiliki atap yang kokoh di atas kepalanya. Agar pekerjaan menghasilkan pendapatan itu terus berlanjut, mereka butuh perlindungan dari hujan. Itu sebabnya kami ingin menawari pinjaman untuk pabrik pada mereka. Tentunya, ‘pabrik’ ini akan berfungsi ganda sebagai rumah juga, tetapi yang lebih penting adalah dampak langsungnya pada kemampuan mereka menghasilkan pendapatan karena mereka bisa bekerja lebih nyaman sepanjang tahun.”
Konsultan menolak permohonan kami untuk ketiga kalinya. Saya atur pertemuan pribadi dengan gubernur Bank Sentral guna memintanya mengatasi birokrasi.
“Anda yakin kaum miskin akan membayarnya kembali?” tanya gubernur.
“Ya, mereka akan bayar. Pasti. Tidak seperti orang kaya, orang miskin tidak akan mengambil resiko dengan tidak membayar. Ini satu-satunya peluang yang mereka punya.”
Gubernur Bank Sentral memandangi saya. “Maaf kalau staf kami menyulitkan Anda,” katanya. “Sebagai ujicoba, saya perkenankan Grameen melaksanakan program KPR. Semoga berhasil.”
Sampai kini (tahun 1997), kami telah menyalurkan KPR sejumlah AS$190 juta untuk membangun lebih dari 560.000 rumah dengan cicilan per minggu yang tingkat pengembaliannya hampir 100%. Program KPR yang diselenggarakan bank komersial konvensional tidak bisa membanggakan keberhasilan macam itu. Para peminjam mereka hanya sedikit yang membayar kembali kreditnya dan programnya dihentikan setelah tiga tahun berjalan. Program KPR kami berlanjut dan makin meluas sampai hari ini.
Kedudukan kami juga semakin dikukuhkan ketika program perumahan Grameen dipilih sebagai penerima penghargaan internasional arsitektur Aga Khan Award tahun 1989 oleh dewan juri yang terdiri dari arsitek-arsitek top dunia. Saat upacara penganugerahan di Kairo, arsitek-arsitek ternama ini selalu menanyai saya siapa arsitek yang merancang rumah prototipe kami, rumah sederhana seharga AS$300 (sejak 1989 besaran KPR kami tumbuh menjadi AS$300). Saya jawab tidak ada arsitek profesional yang pernah merancang rumah yang dibangun peminjam kami. Para peminjamlah yang merancang sendiri rumahnya – sebagaimana mereka merancang sendiri nasibnya.
[ dikutip dari buku : Bank Kaum Miskin, karya Professor Muhammad Yunus, pendiri Grameen Bank. Edisi Indonesia diterbitkan oleh penerbit Marjin Kiri. Buku ini sangat inspriratif, saya sangat rekomendasikan untuk koleksi Anda. Alih bahasa oleh Irfan Nasution sangat bagus, sehingga enak dibaca. Saya sendiri beli di Toko Gunung Agung, di Bandung Indah Plaza, Bandung. Kalau Anda ingin tahu bagaimana berbagai kecerdasan SEPIA muncul dalam diri seseorang, contoh nyatanya ada dalam diri Professor Yunus ini – bagaimana dia memberi dasar motivasi spiritual yang kuat untuk menolong orang miskin (kecerdasan spiritual), aspirasi yang jelas misalnya dalam menggagas Grameen Bank (kecerdasan aspirasi), ide-idenya ketika merumuskan metode kredit mikro misalnya dengan pengembalian mingguan, sistem 5 kelompok, dll (kecerdasan intelektual), keuletannya dalam berusaha (kecerdasan emosi), dan kelihaian beliau dalam lobi-lobi tingkat tinggi (kecerdasan power). Professor Yunus mendapatkan Nobel Perdamaian 2006 atas jasanya yang besar dalam mengentaskan kemiskinan selama 30 tahun di berbagai negara, mengungguli banyak kandidat lain termasuk Susilo Bambang Yudhoyono dari Indonesia. Saya kira memang pantas beliau Professor Yunus yang mendapatkan Nobel Perdamaian.
Seraya berekspansi, kami pantau kemajuan para peminjam melalui siklus pinjaman berturutan. Kebanyakan, besaran pinjaman mereka meingkat sejalan pertumbuhan bisnis dan meningkatnya kepercayaan dirinya. Beberapa peminjam yang paling dinamis menggunakan laba yang didapatnya untuk membangun rumah baru atau memperbaiki rumahnya sekarang. Tiap kali saya mengunjungi sebuah desa dan melihat sebuah rumah dibangun dari laba usaha yang dibiayai Grameen, saya merasa tergetar, meski saya masih menyesal karena ada banyak peminjam lainnya yang tidak mampu melakukan investasi besar macam itu.
Tahun 1984, saya lihat iklan Bank Sentral bangladesh yang mengumumkan rencana pembiayaan baru untuk kredit kepemilikan rumah (KPR) di wilayah pedesaan. Menanggapi iklan itu, Grameen Bank mengajukan ke Bank Sentral permohonan bantuan untuk mengenalkan program KPR ke peminjam. Kami jelaskan bahwa kami dibatasi oleh kondisi para peminjam kami yang sangat sederhana, yang tidak bisa membayar uang sebesar yang disebutkan dalam iklan Bank Sentral. Para peminjam kami tidak bisa meminjam 75.000 taka (sekitar AS$2.000), tetapi kami sungguh ingin meminjamkan KPR sejumlah 5.000 taka (AS$125) untuk mereka.
Permohonan kami ditolak. Para staf ahli dan konsultan Bank Sentral memutuskan bahwa apapun yang dibangun dengan harga AS$125 tidak akan memenuhi pengertian struktural sebuah rumah. Secara spesifik mereka nyatakan bahwa rumah macam itu tidak sesuai dengan “jenis rumah di negeri ini”.
Saya protes. “Siapa peduli dengan ‘jenis rumah di negeri ini’?” ujar saya. “Yang kami inginkan adalah atap yang tidak bocor dan ruang kering yang bisa dihuni oleh para anggota kami.”
Kami berusaha agar konsultan-konsultan Bank Sentral bisa melihat sendiri dampak besar kredit rumah yang sangat kecil ini terhadap kondisi para peminjam kami saat ini. Tetapi semua argumentasi kami kandas. Mereka tidak akan mengalah.
Lalu kami munculkan gagasan lain. Kami mengirimkan permohonan kedua yang menjelaskan bahwa kami tidak lagi menginginkan memberikan kredit perumahan, melainkan ‘kredit tempat tinggal’. Kami harap mereka tidak memiliki definisi atau statistik tentang ‘jenis tempat tinggal’ yang bisa mendiskualifikasi kami. Meski konsultan penanggungjawab proyek tidak memperlihatkan penolakan terhadap ide soal kredit tempat tinggal ini, ekonom dalam kelompok mereka berpendapat bahwa peminjam kami tidak akan mampu membayar pinjaman yang bukan untuk menghasilkan pendapatan. Grameen bisa berjalan karena pinjaman yang diberikannya ditujukan untuk menghasilkan pendapatan, atau yang mereka sebut ‘kegiatan produktif’, tetapi kredit tempat tinggal merupakan ‘kegiatan konsumsi’. Para peminjam kami tidak akan sanggup membayar kembali utangnya dari pinjaman yang tidak menghasilkan pendapatan ini.
Kami pun kembali ke meja rapat. Kali ini kami katakan bahwa kami ingin menawarkan ‘kredit untuk pabrik’ pada para peminjam. Kami jelaskan bahwa mayoritas peminjam adalah perempuan dan mereka ini bekerja di rumahnya. “Peminjam kami memperoleh pendapatan dari pekerjaaan yang dilakukan sambil mengasuh anak,” jelas saya. “Kegiatan macam ini kebanyakan dilakukan di rumah mereka sendiri. Karena merupakan tempat bekerja, kami menyebut rumah mereka sebagai pabrik. Nah, musim hujan merundung mereka selama lima bulan dalam setahun. Selama itu, mereka tidak bisa bekerja karena tidak memiliki atap yang kokoh di atas kepalanya. Agar pekerjaan menghasilkan pendapatan itu terus berlanjut, mereka butuh perlindungan dari hujan. Itu sebabnya kami ingin menawari pinjaman untuk pabrik pada mereka. Tentunya, ‘pabrik’ ini akan berfungsi ganda sebagai rumah juga, tetapi yang lebih penting adalah dampak langsungnya pada kemampuan mereka menghasilkan pendapatan karena mereka bisa bekerja lebih nyaman sepanjang tahun.”
Konsultan menolak permohonan kami untuk ketiga kalinya. Saya atur pertemuan pribadi dengan gubernur Bank Sentral guna memintanya mengatasi birokrasi.
“Anda yakin kaum miskin akan membayarnya kembali?” tanya gubernur.
“Ya, mereka akan bayar. Pasti. Tidak seperti orang kaya, orang miskin tidak akan mengambil resiko dengan tidak membayar. Ini satu-satunya peluang yang mereka punya.”
Gubernur Bank Sentral memandangi saya. “Maaf kalau staf kami menyulitkan Anda,” katanya. “Sebagai ujicoba, saya perkenankan Grameen melaksanakan program KPR. Semoga berhasil.”
Sampai kini (tahun 1997), kami telah menyalurkan KPR sejumlah AS$190 juta untuk membangun lebih dari 560.000 rumah dengan cicilan per minggu yang tingkat pengembaliannya hampir 100%. Program KPR yang diselenggarakan bank komersial konvensional tidak bisa membanggakan keberhasilan macam itu. Para peminjam mereka hanya sedikit yang membayar kembali kreditnya dan programnya dihentikan setelah tiga tahun berjalan. Program KPR kami berlanjut dan makin meluas sampai hari ini.
Kedudukan kami juga semakin dikukuhkan ketika program perumahan Grameen dipilih sebagai penerima penghargaan internasional arsitektur Aga Khan Award tahun 1989 oleh dewan juri yang terdiri dari arsitek-arsitek top dunia. Saat upacara penganugerahan di Kairo, arsitek-arsitek ternama ini selalu menanyai saya siapa arsitek yang merancang rumah prototipe kami, rumah sederhana seharga AS$300 (sejak 1989 besaran KPR kami tumbuh menjadi AS$300). Saya jawab tidak ada arsitek profesional yang pernah merancang rumah yang dibangun peminjam kami. Para peminjamlah yang merancang sendiri rumahnya – sebagaimana mereka merancang sendiri nasibnya.
[ dikutip dari buku : Bank Kaum Miskin, karya Professor Muhammad Yunus, pendiri Grameen Bank. Edisi Indonesia diterbitkan oleh penerbit Marjin Kiri. Buku ini sangat inspriratif, saya sangat rekomendasikan untuk koleksi Anda. Alih bahasa oleh Irfan Nasution sangat bagus, sehingga enak dibaca. Saya sendiri beli di Toko Gunung Agung, di Bandung Indah Plaza, Bandung. Kalau Anda ingin tahu bagaimana berbagai kecerdasan SEPIA muncul dalam diri seseorang, contoh nyatanya ada dalam diri Professor Yunus ini – bagaimana dia memberi dasar motivasi spiritual yang kuat untuk menolong orang miskin (kecerdasan spiritual), aspirasi yang jelas misalnya dalam menggagas Grameen Bank (kecerdasan aspirasi), ide-idenya ketika merumuskan metode kredit mikro misalnya dengan pengembalian mingguan, sistem 5 kelompok, dll (kecerdasan intelektual), keuletannya dalam berusaha (kecerdasan emosi), dan kelihaian beliau dalam lobi-lobi tingkat tinggi (kecerdasan power). Professor Yunus mendapatkan Nobel Perdamaian 2006 atas jasanya yang besar dalam mengentaskan kemiskinan selama 30 tahun di berbagai negara, mengungguli banyak kandidat lain termasuk Susilo Bambang Yudhoyono dari Indonesia. Saya kira memang pantas beliau Professor Yunus yang mendapatkan Nobel Perdamaian.
Orang Kaya no.1 Indonesia Indonesia Seorang Investor
Orang Kaya No.1 Indonesia Seorang Investor
(Aburizal Bakrie, Budi Hartono, H.Salim, Sampoerna, dll)
Menjadi investor? Bukankah cita-cita yang umum adalah menjadi dokter, menjadi pilot, menjadi insinyur, atau menjadi artis?
Ya, itulah cita-citanya orang yang tidak kaya (atau yang orang tuanya tidak punya ilmu menjadi kaya). Ini tidak bermaksud menghina, ini hanya sekedar menunjukkan perbedaan orang yang kaya dengan yang tidak kaya (kelas menengah atau miskin) dalam mendidik anaknya.
Didikan orang tua (yang tahu caranya) kaya adalah : jadilah investor, baru kemudian apa pun profesi yang kamu inginkan!
Setelah jeda yang sangat lama, saya kembali membuka buku Kiyosaki berjudul Guide to Investing. Ini satu di antara 3 buku Kiyosaki yang menjadi favorit saya. Buku yang lain adalah Retire Young Retire Rich, dan Cashflow Quadrant. Ya, Anda benar, saya menjadikan Kiyosaki sebagai salah satu guru saya. Virtual tentu saja.
Buku Guide to Investing ini cukup padat isinya dan saya tidak bermaksud menulis ulang isi buku ini (silahkan baca sendiri). Satu hal yang menarik untuk dikaji adalah esensi dari semua kegiatan yang Anda lakukan untuk menjadi kaya adalah ‘muara akhirnya’ yaitu : menjadi investor.
Anda boleh menjadi seorang karyawan (E:employee), sebagai seorang pekerja mandiri (S : self employee), atau menjadi bisnisman (B : businesss owner). Anda bebas memilih menjadi apa pun, atau sebaliknya tidak menjadi satu pun dari karyawan, pekerja mandiri, atau bisnisman itu. Namun Anda wajib menjadi investor (I : investor). Inilah satu-satunya jalan menjadi kaya.
Nah, karena kita dilahirkan dengan kondisi berbeda-beda, maka tidak semua orang langsung bisa terjun total sebagai investor. Kita perlu belajar dulu, perlu pengalaman dulu, dan perlu modal dulu. Itulah kenapa kita semua memerlukan profesi E, S, B, sebagai jembatan menuju profesi ultima yaitu sebagai I (investor).
Kalau begitu kita perlu segera terjun ke pasar saham dong? Atau ikut MLM (kata orang MLM)? Atau jual beli rumah?
Salah.
Langkah pertama adalah mengenal apa itu investasi. Dan jauh dari yang dibayangkan kebanyakan orang, investasi itu bukan main saham, bukan jual beli rumah, bukan juga rame-rame ikut MLM. Itu semua cuma disebut ‘kendaraan investasi’. Investasi menurut Rich Dad nya Kiyosaki adalah : sebuah rencana!
Investor Lesson #4 : Investing is a plan, not a product or procedure. Investing is a very personal plan. (Guide to Investing. Kiyosaki)
Saya kutipkan percakapan Kiyosaki dengan ‘ayah kaya’ nya sebagai berikut :
Dalam salah satu pelajaran saya (Kiyosaki - red.) mengenai investasi, ia (ayah kaya - red.) bertanya, “Tahukan kamu mengapa ada begitu banyak tipe mobil dan truk yang berlainan?”
Saya memikirkan pertanyaan itu sebentar, lalu menjawab, “Aku rasa karena ada begitu banyak tipe orang yang berlainan dan mereka mempunyai kebutuhan-kebutuhan yang berbeda. Seorang lajang mungkin tidak membutuhkan station wagon besar berkursi sembilan, tapi suatu keluarga dengan lima anak mungkin membutuhkan itu. Dan seorang petani akan memilih truk pickup daripada mobil sport dua kursi.”
“Tepat,” sahut ayah kaya. “Dan itu sebabnya produk-produk investasi sering disebut ‘kendaraan investasi’.”
“Mengapa istilahnya ‘kendaraan’?” tanya saya lagi.
“Sebab tugas semua kendaraan adalah membawamu dari titik A ke titik B!” jawab ayah kaya. “Suatu kendaraan investasi hanya membawamu dari titik finansial sekarang ke titik finansial yang kamu inginkan, entah kapan di masa mendatang.”
“Dan itu sebabnya investasi itu adalah rencana,” sahut saya sambil mengangguk pelan. Saya mulai paham.
“Investasi itu seperti merencanakan suatu perjalanan, misalnya dari Hawaii ke New York. Jelas, kamu tahu bahwa untuk awal perjalananmu sepeda atau mobil tidak akan memadai. Kamu perlu kapal laut atau pesawat terbang untuk menyeberangi laut,” kata ayah kaya.
“Dan sekali saya mendarat, saya bisa berjalan, mengendarai sepeda, atau bermobil, naik kereta api, bus, atau terbang ke New York,” tambah saya. “Semuanya kendaraan yang berbeda.”
Ayah kaya mengangguk. “Dan yang satu tidak lantas berarti lebih baik dari yang lain. Jika kamu punya banyak waktu dan betul-betul ingin melihat negeri ini, maka berjalan kaki atau naik sepeda akan menjadi yang terbaik. Tetapi jika kamu perlu berada di New York besok, jelas bahwa terbang adalah satu-satunya pilihan terbaik bagimu jika kamu ingin tiba tepat waktu.”
“Jadi banyak orang mengarahkan fokus pada suatu produk, misalnya saham, dan kemudian suatu prosedur, misalnya trading (jual-beli), tetapi sebetulnya mereka tidak mempunyai rencana. Itukan yang hendak Bapak katakan?” tanya saya.
Ayah kaya mengangguk. “Kebanyakan orang berusaha meraup uang dengan apa yang mereka anggap investasi. tetapi trading bukanlah investasi.”
“Kalau bukan investasi, lalu apa?” tanya saya.
“Trading adalah trading,” sahut ayah kaya. “Dan trading adalah suatu prosedur atau teknik. Orang yang memperdagangkan saham tidak berbeda dengan orang yang beli rumah, memperbaikinya, lalu menjualnya kembali dengan keuntungan lebih tinggi. Satu orang dagang saham, orang lain dagang rumah. Itu tetap trading. Dan trading adalah suatu profesi. Tetapi trading bukanlah apa yang aku sebut investasi.”
“Dan bagi Bapak, investasi adalah suatu rencana, rencana untuk membawa Bapak dari posisi sekarang ini ke posisi yang Bapak inginkan,” sahut saya sambil berusaha keras memahami batasan-batasan ayah kaya.
Ayah kaya mengangguk dan berkata, “Aku tahu ini agak dipaksakan dan terasa detil. Aku ingin melakukan yang terbaik untuk mengurangi kebingungan di seputar subyek investasi. Setiap hari aku bertemu dengan orang-orang yang mengira mereka sedang berinvestasi, padahal secara finansial mereka tidak beranjak kemana-mana. Mereka ibarat mendorong sebuah gerobak berputar-putar.”
Ketika membaca buku Guide to Investing saya sebenarnya tidak paham tentang ‘investasi adalah rencana’. Saya baru paham setelah membaca buku Retire Young Retire Rich yang menjelaskan konsep Wealth Ratio (WR).
Investasi adalah sebuah rencana maksudnya begini: dengan rencana tersebut Anda menggunakan berbagai kendaraan investasi untuk bisa berpindah dari miskin (WR=0) menjadi bebas finansial (WR=1) dan terus berkembang menjadi berkelimpahan (WR>1). Tentunya Anda masih ingat tentang konsep WR ini.
Jadi, apapun yang sekarang sedang Anda kerjakan di kantor atau bisnis, Anda ‘tidak akan pernah menjadi kaya’ kecuali Anda mulai membuat rencana, kemudian berlatih menggunakan kendaraan investasi, dan selanjutnya menggunakan ilmu dan uang yang Anda peroleh itu untuk diubah menjadi sumber pasif income hingga WR>1.
Eh, ngomong-ngomong, bolehkan saya tidak memilih jadi investor? Ya boleh saja. Paling-paling Anda gagal jadi kaya (yang berarti terus menjadi budak masalah finansial).
(Aburizal Bakrie, Budi Hartono, H.Salim, Sampoerna, dll)
Menjadi investor? Bukankah cita-cita yang umum adalah menjadi dokter, menjadi pilot, menjadi insinyur, atau menjadi artis?
Ya, itulah cita-citanya orang yang tidak kaya (atau yang orang tuanya tidak punya ilmu menjadi kaya). Ini tidak bermaksud menghina, ini hanya sekedar menunjukkan perbedaan orang yang kaya dengan yang tidak kaya (kelas menengah atau miskin) dalam mendidik anaknya.
Didikan orang tua (yang tahu caranya) kaya adalah : jadilah investor, baru kemudian apa pun profesi yang kamu inginkan!
Setelah jeda yang sangat lama, saya kembali membuka buku Kiyosaki berjudul Guide to Investing. Ini satu di antara 3 buku Kiyosaki yang menjadi favorit saya. Buku yang lain adalah Retire Young Retire Rich, dan Cashflow Quadrant. Ya, Anda benar, saya menjadikan Kiyosaki sebagai salah satu guru saya. Virtual tentu saja.
Buku Guide to Investing ini cukup padat isinya dan saya tidak bermaksud menulis ulang isi buku ini (silahkan baca sendiri). Satu hal yang menarik untuk dikaji adalah esensi dari semua kegiatan yang Anda lakukan untuk menjadi kaya adalah ‘muara akhirnya’ yaitu : menjadi investor.
Anda boleh menjadi seorang karyawan (E:employee), sebagai seorang pekerja mandiri (S : self employee), atau menjadi bisnisman (B : businesss owner). Anda bebas memilih menjadi apa pun, atau sebaliknya tidak menjadi satu pun dari karyawan, pekerja mandiri, atau bisnisman itu. Namun Anda wajib menjadi investor (I : investor). Inilah satu-satunya jalan menjadi kaya.
Nah, karena kita dilahirkan dengan kondisi berbeda-beda, maka tidak semua orang langsung bisa terjun total sebagai investor. Kita perlu belajar dulu, perlu pengalaman dulu, dan perlu modal dulu. Itulah kenapa kita semua memerlukan profesi E, S, B, sebagai jembatan menuju profesi ultima yaitu sebagai I (investor).
Kalau begitu kita perlu segera terjun ke pasar saham dong? Atau ikut MLM (kata orang MLM)? Atau jual beli rumah?
Salah.
Langkah pertama adalah mengenal apa itu investasi. Dan jauh dari yang dibayangkan kebanyakan orang, investasi itu bukan main saham, bukan jual beli rumah, bukan juga rame-rame ikut MLM. Itu semua cuma disebut ‘kendaraan investasi’. Investasi menurut Rich Dad nya Kiyosaki adalah : sebuah rencana!
Investor Lesson #4 : Investing is a plan, not a product or procedure. Investing is a very personal plan. (Guide to Investing. Kiyosaki)
Saya kutipkan percakapan Kiyosaki dengan ‘ayah kaya’ nya sebagai berikut :
Dalam salah satu pelajaran saya (Kiyosaki - red.) mengenai investasi, ia (ayah kaya - red.) bertanya, “Tahukan kamu mengapa ada begitu banyak tipe mobil dan truk yang berlainan?”
Saya memikirkan pertanyaan itu sebentar, lalu menjawab, “Aku rasa karena ada begitu banyak tipe orang yang berlainan dan mereka mempunyai kebutuhan-kebutuhan yang berbeda. Seorang lajang mungkin tidak membutuhkan station wagon besar berkursi sembilan, tapi suatu keluarga dengan lima anak mungkin membutuhkan itu. Dan seorang petani akan memilih truk pickup daripada mobil sport dua kursi.”
“Tepat,” sahut ayah kaya. “Dan itu sebabnya produk-produk investasi sering disebut ‘kendaraan investasi’.”
“Mengapa istilahnya ‘kendaraan’?” tanya saya lagi.
“Sebab tugas semua kendaraan adalah membawamu dari titik A ke titik B!” jawab ayah kaya. “Suatu kendaraan investasi hanya membawamu dari titik finansial sekarang ke titik finansial yang kamu inginkan, entah kapan di masa mendatang.”
“Dan itu sebabnya investasi itu adalah rencana,” sahut saya sambil mengangguk pelan. Saya mulai paham.
“Investasi itu seperti merencanakan suatu perjalanan, misalnya dari Hawaii ke New York. Jelas, kamu tahu bahwa untuk awal perjalananmu sepeda atau mobil tidak akan memadai. Kamu perlu kapal laut atau pesawat terbang untuk menyeberangi laut,” kata ayah kaya.
“Dan sekali saya mendarat, saya bisa berjalan, mengendarai sepeda, atau bermobil, naik kereta api, bus, atau terbang ke New York,” tambah saya. “Semuanya kendaraan yang berbeda.”
Ayah kaya mengangguk. “Dan yang satu tidak lantas berarti lebih baik dari yang lain. Jika kamu punya banyak waktu dan betul-betul ingin melihat negeri ini, maka berjalan kaki atau naik sepeda akan menjadi yang terbaik. Tetapi jika kamu perlu berada di New York besok, jelas bahwa terbang adalah satu-satunya pilihan terbaik bagimu jika kamu ingin tiba tepat waktu.”
“Jadi banyak orang mengarahkan fokus pada suatu produk, misalnya saham, dan kemudian suatu prosedur, misalnya trading (jual-beli), tetapi sebetulnya mereka tidak mempunyai rencana. Itukan yang hendak Bapak katakan?” tanya saya.
Ayah kaya mengangguk. “Kebanyakan orang berusaha meraup uang dengan apa yang mereka anggap investasi. tetapi trading bukanlah investasi.”
“Kalau bukan investasi, lalu apa?” tanya saya.
“Trading adalah trading,” sahut ayah kaya. “Dan trading adalah suatu prosedur atau teknik. Orang yang memperdagangkan saham tidak berbeda dengan orang yang beli rumah, memperbaikinya, lalu menjualnya kembali dengan keuntungan lebih tinggi. Satu orang dagang saham, orang lain dagang rumah. Itu tetap trading. Dan trading adalah suatu profesi. Tetapi trading bukanlah apa yang aku sebut investasi.”
“Dan bagi Bapak, investasi adalah suatu rencana, rencana untuk membawa Bapak dari posisi sekarang ini ke posisi yang Bapak inginkan,” sahut saya sambil berusaha keras memahami batasan-batasan ayah kaya.
Ayah kaya mengangguk dan berkata, “Aku tahu ini agak dipaksakan dan terasa detil. Aku ingin melakukan yang terbaik untuk mengurangi kebingungan di seputar subyek investasi. Setiap hari aku bertemu dengan orang-orang yang mengira mereka sedang berinvestasi, padahal secara finansial mereka tidak beranjak kemana-mana. Mereka ibarat mendorong sebuah gerobak berputar-putar.”
Ketika membaca buku Guide to Investing saya sebenarnya tidak paham tentang ‘investasi adalah rencana’. Saya baru paham setelah membaca buku Retire Young Retire Rich yang menjelaskan konsep Wealth Ratio (WR).
Investasi adalah sebuah rencana maksudnya begini: dengan rencana tersebut Anda menggunakan berbagai kendaraan investasi untuk bisa berpindah dari miskin (WR=0) menjadi bebas finansial (WR=1) dan terus berkembang menjadi berkelimpahan (WR>1). Tentunya Anda masih ingat tentang konsep WR ini.
Jadi, apapun yang sekarang sedang Anda kerjakan di kantor atau bisnis, Anda ‘tidak akan pernah menjadi kaya’ kecuali Anda mulai membuat rencana, kemudian berlatih menggunakan kendaraan investasi, dan selanjutnya menggunakan ilmu dan uang yang Anda peroleh itu untuk diubah menjadi sumber pasif income hingga WR>1.
Eh, ngomong-ngomong, bolehkan saya tidak memilih jadi investor? Ya boleh saja. Paling-paling Anda gagal jadi kaya (yang berarti terus menjadi budak masalah finansial).
Cara Memulai Berbisnis, Bisnis Apapun
Hidup adalah pelajaran, kata orang bijak. Untuk menjadi yang terbaik kita selalu harus terus belajar. Ada orang yang langsung terjun ke lapangan dan menemukan beberapa kegagalan dan kesuksesannya sebagai bahan pelajaran. Ada orang yang belajar terlebih dahulu kemudian baru melakukan usaha.
Terjun Dulu Belajar Kemudian Kalau Anda pernah membaca biografi saya yang berbisnis, berhenti berbisnis lagi dan berhenti lagi yang pada ahirnya terus berbisnis merupakan tahapan pembelajaran yang panjang. Kenapa? Karena saya bukanlah orang ekonomi, bukan pula orang marketing tapi saya adalah orang teknik. Apa hubungannya dengan orang teknik sama Ekonomi? Paling tidak kalau pernah menekuni bidang ekonomi dan marketing sedikit banyak mengerti cara marketing yang efektif.
Tapi apa yang terjadi? Memang secara komunikasi saya lancar. Dengan keyakinan dan semangat ditambah komunikasi yang lancar, saya sudah berani terjun ke bisnis. Memang saya bisa melakukan, tapi hasilnya kurang efektif. Apakah apa yang saya lakukan benar atau tidak, saya tidak bisa mengukur dari kaca mata keilmuan. Yang saya tahu adalah bahwa omzet dan keuntungan meningkat, berarti indikasi marketing saya sudah benar.
Memang tidak semua cara yang saya lakukan tidak efektif. Sambil berjalan saya pun belajar cara berjualan beras kepada penjual beras keliling di Malang yang bernama Koh Ayen. Saya juga mempelajari buku-bukku marketing. Tapi tidak semua jurus ampuh aku dapatkan. Ditambah kurangnya modal sebagai kendala Utama.
Munculnya kendala-kendala di lapangan biasanya tidak terduga. Tapi datangnya kesempatan, peluang bisnis dan keuntungan yang mendadak juga sering tiba-tiba. Jadi kesempatan dan kendala ini sering ditemui di lapangan. Ketika kita sudah biasa, maka kita makin mahir menghadapinya. Maka lama-kelamaan kita pun bisa menjadi pintar atau biasa disebut ‘smart street’ (pintar di jalanan).
Belajar dulu dan takut bisnisBanyak kan contoh orang yang sudah menguasai marketing tapi tidak berani terjun ke dunia bisnis. Secara keimuan bisa jadi dia sudah menguasainya. Dia pun sudah memiliki mimpi untuk menjadi pengusaha sukses, sudah belajar cara efektif marketing, sudah pula belajar kepada guru-guru bisnis terbaik di bidangnya, tapi? Dia belum berani melakukan, belum take action dalam bisnis. Sehingga ilmunya hanya menjadi teori belaka. Ini yang ironi. Dia tergolong kategori ’smart school’, pintar karena sekolah.
Belajar dulu dan melakukan bisnisOkey, kalau kedua cara diatas dianggap belum efektif, cobalah mempelajari dulu Anda mau bisnis apa?Setelah tahu ide bisnisnya, cobalah inventarisir pebisnis di bidang serupa dan bergurulah kepadanya. Jika guru tersebut mau berbagi ilmu, maka kita tinggal menerapkannya. Bila tidak mau, ya cari tahu untuk mendapatkan gambaran proses bisnis dan kunci kesuksesannya.Bila referensi Anda kurang lengkap, Anda juga bisa berguru kepada pebisnis di bidang serupa (tapi tidak sama) untuk diambil sari terbaiknya dan mencoba diterapkan kepada bisnis kita.
Namun, terkadang kalau kita kebanyakan ilmu kita malah tahu adanya ’kengerian’ bisnis, sehingga semakin kita tahu membuat kita semakin takut memulai bidang bisnis tersebut.
Belajar Efektif:
Berguru kepada orang yang terbaik dan tepat
Mengetahui global bisnis tersebut
Mengetahui peluang dan ancaman secara lebih detail
Mengetahui strategi memperoleh peluang yang besar, dan bayangkan ANDA AKAN MENDAPATKANNYA
Mengetahui strategi mengurangi ancaman kerugian. Jangan bayangkan kerugian tapi bayangkan kenikmatannya, sehingga kondisi apapun kita masih tetap semangat
Melakukan step awal dalam bisnis.
Bila menjumpai masalah, hadapi dan bertanyalah kepada guru terbaik di bidangnya.
Melakukan step berikutnya, evaluasi, belajar, melakukan lagi dan terus berputar.
Dari sini akan muncul proses belajar, praktek, belajar, praktek yang terus menerus.
Terus belajar untuk mengikuti perubahanMasalah dalam bisnis tentu terus ada. Kalau tidak ada masalah, maka ciptakan masalah agar omzet terus membaik. Maksudnya, ‘tidak masalah’ berarti penjualan sudah memenuhi target. Sehingga kalau omzet itu mentok, sebenarnya itulah masalahnya. Sehingga ciptakan target yang lebih tinggi lagi dan bagaimana mencapainya. Maka kita pasti akan terus belajar.
Tempat & waktu berbeda menciptakan situiasi yang berbeda. Perubahan terus terjadi. Persaingan terus meningkat. Maka kewajiban kita untuk terus belajar dan mengikuti perubahan. Kalau kita tidak mau belajar dan berubah, maka zaman yang akan menggilas kita.
PenutupUntuk menghindari kesalahan yang fatal, minimal Anda harus tahu konsep bisnis yang akan Anda geluti. Untuk mengetahui konsep tersebut, Anda bisa belajar kepada pengusaha terbaik di bidangnya atau minimal melakukan observasi. Minimal targetnya adalah Anda mengerti cara memulainya.Setelah tahu lebih bisnis tersebut, maka memulai bisnis adalah langkah kedua terbaik.Di langkah kedua ini tentu akan muncul masalah lagi, maka diskusikan dengan guru terbaik lagi.Begitu seterusnya, sehingga kita belajar dan take action kemudian evaluasi dan belajar lagi. Begitu tersus menerus.
Dengan belajar yang terus menerus dan memperbaiki yang belum baik, maka dijamin kita tidak akan tergilas oleh perubahan, karena kita juga terus berubah.
Improvement Forever. Terus berubah untuk menjadi lebih baik.
*) Oleh: Masbukhin PradhanaPenulis adalah mentor di Entrepreneur University, pemilik jaringan bisnis voucher Priema Persada dan masih menjadi karyawan IT. Bisa dihubungi lewat bukhin@yahoo.com atau telepon 08121955772.
Terjun Dulu Belajar Kemudian Kalau Anda pernah membaca biografi saya yang berbisnis, berhenti berbisnis lagi dan berhenti lagi yang pada ahirnya terus berbisnis merupakan tahapan pembelajaran yang panjang. Kenapa? Karena saya bukanlah orang ekonomi, bukan pula orang marketing tapi saya adalah orang teknik. Apa hubungannya dengan orang teknik sama Ekonomi? Paling tidak kalau pernah menekuni bidang ekonomi dan marketing sedikit banyak mengerti cara marketing yang efektif.
Tapi apa yang terjadi? Memang secara komunikasi saya lancar. Dengan keyakinan dan semangat ditambah komunikasi yang lancar, saya sudah berani terjun ke bisnis. Memang saya bisa melakukan, tapi hasilnya kurang efektif. Apakah apa yang saya lakukan benar atau tidak, saya tidak bisa mengukur dari kaca mata keilmuan. Yang saya tahu adalah bahwa omzet dan keuntungan meningkat, berarti indikasi marketing saya sudah benar.
Memang tidak semua cara yang saya lakukan tidak efektif. Sambil berjalan saya pun belajar cara berjualan beras kepada penjual beras keliling di Malang yang bernama Koh Ayen. Saya juga mempelajari buku-bukku marketing. Tapi tidak semua jurus ampuh aku dapatkan. Ditambah kurangnya modal sebagai kendala Utama.
Munculnya kendala-kendala di lapangan biasanya tidak terduga. Tapi datangnya kesempatan, peluang bisnis dan keuntungan yang mendadak juga sering tiba-tiba. Jadi kesempatan dan kendala ini sering ditemui di lapangan. Ketika kita sudah biasa, maka kita makin mahir menghadapinya. Maka lama-kelamaan kita pun bisa menjadi pintar atau biasa disebut ‘smart street’ (pintar di jalanan).
Belajar dulu dan takut bisnisBanyak kan contoh orang yang sudah menguasai marketing tapi tidak berani terjun ke dunia bisnis. Secara keimuan bisa jadi dia sudah menguasainya. Dia pun sudah memiliki mimpi untuk menjadi pengusaha sukses, sudah belajar cara efektif marketing, sudah pula belajar kepada guru-guru bisnis terbaik di bidangnya, tapi? Dia belum berani melakukan, belum take action dalam bisnis. Sehingga ilmunya hanya menjadi teori belaka. Ini yang ironi. Dia tergolong kategori ’smart school’, pintar karena sekolah.
Belajar dulu dan melakukan bisnisOkey, kalau kedua cara diatas dianggap belum efektif, cobalah mempelajari dulu Anda mau bisnis apa?Setelah tahu ide bisnisnya, cobalah inventarisir pebisnis di bidang serupa dan bergurulah kepadanya. Jika guru tersebut mau berbagi ilmu, maka kita tinggal menerapkannya. Bila tidak mau, ya cari tahu untuk mendapatkan gambaran proses bisnis dan kunci kesuksesannya.Bila referensi Anda kurang lengkap, Anda juga bisa berguru kepada pebisnis di bidang serupa (tapi tidak sama) untuk diambil sari terbaiknya dan mencoba diterapkan kepada bisnis kita.
Namun, terkadang kalau kita kebanyakan ilmu kita malah tahu adanya ’kengerian’ bisnis, sehingga semakin kita tahu membuat kita semakin takut memulai bidang bisnis tersebut.
Belajar Efektif:
Berguru kepada orang yang terbaik dan tepat
Mengetahui global bisnis tersebut
Mengetahui peluang dan ancaman secara lebih detail
Mengetahui strategi memperoleh peluang yang besar, dan bayangkan ANDA AKAN MENDAPATKANNYA
Mengetahui strategi mengurangi ancaman kerugian. Jangan bayangkan kerugian tapi bayangkan kenikmatannya, sehingga kondisi apapun kita masih tetap semangat
Melakukan step awal dalam bisnis.
Bila menjumpai masalah, hadapi dan bertanyalah kepada guru terbaik di bidangnya.
Melakukan step berikutnya, evaluasi, belajar, melakukan lagi dan terus berputar.
Dari sini akan muncul proses belajar, praktek, belajar, praktek yang terus menerus.
Terus belajar untuk mengikuti perubahanMasalah dalam bisnis tentu terus ada. Kalau tidak ada masalah, maka ciptakan masalah agar omzet terus membaik. Maksudnya, ‘tidak masalah’ berarti penjualan sudah memenuhi target. Sehingga kalau omzet itu mentok, sebenarnya itulah masalahnya. Sehingga ciptakan target yang lebih tinggi lagi dan bagaimana mencapainya. Maka kita pasti akan terus belajar.
Tempat & waktu berbeda menciptakan situiasi yang berbeda. Perubahan terus terjadi. Persaingan terus meningkat. Maka kewajiban kita untuk terus belajar dan mengikuti perubahan. Kalau kita tidak mau belajar dan berubah, maka zaman yang akan menggilas kita.
PenutupUntuk menghindari kesalahan yang fatal, minimal Anda harus tahu konsep bisnis yang akan Anda geluti. Untuk mengetahui konsep tersebut, Anda bisa belajar kepada pengusaha terbaik di bidangnya atau minimal melakukan observasi. Minimal targetnya adalah Anda mengerti cara memulainya.Setelah tahu lebih bisnis tersebut, maka memulai bisnis adalah langkah kedua terbaik.Di langkah kedua ini tentu akan muncul masalah lagi, maka diskusikan dengan guru terbaik lagi.Begitu seterusnya, sehingga kita belajar dan take action kemudian evaluasi dan belajar lagi. Begitu tersus menerus.
Dengan belajar yang terus menerus dan memperbaiki yang belum baik, maka dijamin kita tidak akan tergilas oleh perubahan, karena kita juga terus berubah.
Improvement Forever. Terus berubah untuk menjadi lebih baik.
*) Oleh: Masbukhin PradhanaPenulis adalah mentor di Entrepreneur University, pemilik jaringan bisnis voucher Priema Persada dan masih menjadi karyawan IT. Bisa dihubungi lewat bukhin@yahoo.com atau telepon 08121955772.
Label:
belajar Bisnis,
cara Bisnis,
cara memulai bisnis
Bakrie and Entrepreneur
Do U Know about Bakrie???
Do You know about Entrepreneur? An entrepreneur risks his own capital, services, and skills in a company (or in several companies). Entrepreneurs exemplify the Indonesian dream—working without a boss and using their own hands to build a livelihood. Successful entrepreneurs seem to have a number of similar qualities. First, they know business, either from their own experience or through extensive research. Second, they are extremely motivated. The average number of working hours per week of a successful starting entrepreneur is seventy. This catches the typical Indonesian dreamer by surprise. Third, successful entrepreneurs become obsessed with—or at least fascinated by—all parts of their chosen area of expertise.
No aspect of the business is too large or too small to consider. The best thing about being an entrepreneur is that they control their own destinies to a greater extent than if they were working for someone else. Unlike working for someone else who judges their work and assigns a value to their services, every stitch of work they do goes toward their betterment. This puts immense pressure on the entrepreneurs, but it can also be the source of immense pleasure. The most important entrepreneurial concerns should be thought about long before the person starts her own business. She must know how to run the company and when to reassess management strategies. She must be on top of issues of cash flow, expansion (or consolidation), liquidity, and corporate governance. Over three-fifths of new businesses and franchises fail within eighteen months of opening their doors. Many of the factors leading to failure are uncontrollable by the entrepreneur. If she’s trying to sell widgets, and a widgets superstore opens down the street, she may be sunk. Being an entrepreneur means thinking about the business all the time, accepting its responsibilities and its failures. Big Entrepreneur in Indonesia; Budi Hartono, Tomy Winata, Ir. Ciputra, Arifin Panigoro, Aburizal Bakrie, etc.
Do You know about Entrepreneur? An entrepreneur risks his own capital, services, and skills in a company (or in several companies). Entrepreneurs exemplify the Indonesian dream—working without a boss and using their own hands to build a livelihood. Successful entrepreneurs seem to have a number of similar qualities. First, they know business, either from their own experience or through extensive research. Second, they are extremely motivated. The average number of working hours per week of a successful starting entrepreneur is seventy. This catches the typical Indonesian dreamer by surprise. Third, successful entrepreneurs become obsessed with—or at least fascinated by—all parts of their chosen area of expertise.
No aspect of the business is too large or too small to consider. The best thing about being an entrepreneur is that they control their own destinies to a greater extent than if they were working for someone else. Unlike working for someone else who judges their work and assigns a value to their services, every stitch of work they do goes toward their betterment. This puts immense pressure on the entrepreneurs, but it can also be the source of immense pleasure. The most important entrepreneurial concerns should be thought about long before the person starts her own business. She must know how to run the company and when to reassess management strategies. She must be on top of issues of cash flow, expansion (or consolidation), liquidity, and corporate governance. Over three-fifths of new businesses and franchises fail within eighteen months of opening their doors. Many of the factors leading to failure are uncontrollable by the entrepreneur. If she’s trying to sell widgets, and a widgets superstore opens down the street, she may be sunk. Being an entrepreneur means thinking about the business all the time, accepting its responsibilities and its failures. Big Entrepreneur in Indonesia; Budi Hartono, Tomy Winata, Ir. Ciputra, Arifin Panigoro, Aburizal Bakrie, etc.
Langganan:
Postingan (Atom)