Google
 

Senin, 22 Februari 2010

'Bangkit setelah terjatuh'

Salam kedamaian dan kesejahteraan untuk mu Kawan!

Setelah sekian lama absent dari dunia maya ini dikarenakan banyak hal yang sebenarnya tak terlalu penting untuk diceritakan dan tak masuk akal untuk menghambat komunikasi di antara kita. Alasan tetap saja sebuah alasan, konon setiap manusia yang jika ditanyakan alasan kenapa dia tidak dapat berbuat yang semestinya atau kenapa dia begini dan begitu? Niscaya akan ada berantai-rantai alasan yang mengalir dalam jumlah yang sangat banyak bahkan hingga mencapai 40.000 buah alasan untuk memepertahankan diri. Begitulah hasil pemikiran dari seorang cendekia Timur Tengah yang sempat menjadi Khalifah ke-3, Usman Bin Affan R.A. Hebat bukan! Yah, begitulah kita jika terbiasa mengungkapkan alasan pada setiap hal yang terjadi diluar harapan.

Ada kisah masa kecil sewaktu masih menjadi siswa di sebuah Sekolah Menengah Pertama (SMP). Seorang siswa didapati oleh kepala sekolah SMP tersebut datang terlambat untuk mengikuti kegiatan belajar mengajar di kelas, kemudian Bapak kepala sekolah itu meminta sang siswa datang ke ruangannya.

“Kenapa kamu terlambat?” tanya Pak kepala sekolah tegas.

“Saya datang jam 8 lewat 15 menit Pak!” jawab sang siswa dengan sedikit menunduk.

“Iya saya tahu itu, kamu harusnya datang paling telat jam 7, saya tanya kenapa kamu terlambat datang ke sekolah?” terdengar pertanyaan kedua sedikit lebih keras dari pertanyaan pertama.

“Rumah saya jauh Pak! Rumah saya terletak di Desa Sukaharja yang jauh banget Pak!” jelas si siswa itu.

“Apa kamu punya teman satu desa yang sekolah di di sini?” tanya kepala sekolah itu.

“Banyak Pak!” jawab si anak dengan sedikit tersenyum, si anak itu mengira kepala sekolah sudah menerima alasannya karena datang terlambat ke sekolah. Karena dia mendengar suara kepala sekolah tersebut mulai rendah.

“Kalau begitu, apakah teman-teman mu datang terlambat juga?” tanya kepala sekolah

“Tidak Pak!” jawab siswa itu pelan.

“Terus kenapa kamu terlambat?” kepala sekolah bertanya lebih keras suaranya hingga siswa tersebut terkaget dari duduknya yang santai.

“Anu Pak, hmm… eueueu… Sa…Sa.. Saya sebelum berangkat sekolah diminta Ibu ke warung” muncul alasan-alasan lain dalam pikiran si anak, “setelah pulang dari warung saya disuruh mengantarkan adik ke sekolah SD dulu Pak! Setelah mengantar adik lalu saya pun berangkat untuk sekolah bersama teman-teman, namun setelah di jalan saya baru ingat kalua buku PR saya ketinggalan dan akhirnya saya memutuskan untuk mengambil buku PR itu dulu di rumah dan teman-teman saya pergi duluan. Saya berlari kok Pak, eh setelah udah samapai lagi di tempat kumpul menunggu angkot, mobil angkotnya lama banget munculnya, setelah mobil angkot dateng saya naik dan eh ternyata itu mobil suka berhenti-berhenti buat ngetem Pak! Oh iya tadi mobil angkotnya nabrak becak Pak! eh berantem deh tuh supir ma tukang becak di jalan. Setelah berantem si supir tancap gas dan ngebut eh dia malah salah jalan, karena jalannya satu arah dia harus memutar Pak! eh karena angkot lewat jalur yang salah terus ditilang Pak Polisi deh! setelah selesai ditilang lalu jalan lagi angkotnya, terus Pak, pas muter jalan gitu malah tersesat deh tuh angkot. Udah gitu saya diturunin ma supir dan disuruh ganti angkot lain. Saya bingung akhirnya saya nanya orang-orang dipinggir jalan untuk naik angkot apa agar sampai ke sekolah, dan ternyata saya harus dua kali lagi naik angkot Pak! terus pas saya …”

“Sudah, sudah, stop! pusing saya dengerin ocehan kamu, kamu masih kecil banyak alasan, pungutin sampah di lapangan sana, kamu boleh masuk kelas setelah jam istirahat nanti” kepala sekolah memotong pembicaraan, lalu memberikan kantong pelastik hitam untuk wadah sampah kepada si anak.

Kini pukul 09.00, dengan sedikit menarik nafas dan merasa menyesal membuang waktu hampir satu jam mendengarkan berbagai alasan si anak, akhirnya kepala sekolah itu berjanji dalam hatinya tidak akan mendengarkan lagi alasan-alasan konyol dari setiap siswa sekolahnya. Karena alasan hanyalah sebuah alasan, alasan tidak akan memperbaiki keadaan, tindakan untuk perbaikan lah yang perlu dilakukan. Begitupun dalam dunia bisnis, terkadang kita terjatuh dalam kegagalan, kerugian, atau kebangkrutan dan sebagian besar orang malah menciptakan alasan-alasan mengapa dia pantas gagal, mulai dari alasan ekonomi, alasan usia, alasan pendidikan, alasan cuaca dan berbagai alasan-alasan lainnya yang seakan-akan membenarkan bahwa kelemahan dan ketidak mampuan diri sendiri. Alasan tidak memperbaiki keadaan, analisa dari suatu kejadian lah yang diperlukan, sehingga kita dapat mengambil pelajaran dan memulai lagi dengan lebih baik dibanding sebelumnya.